Salah satu faktor yang menentukan dalam pembaharuan gereja di abad ke-16 adalah penemuan mesin cetak pada tahun 1440 oleh Johannes Gutenberg. Salah satu buku pertama yang dicetak dengan mesin ini adalah Alkitab, dan penemuan alat ini merevolusi bagai-mana Alkitab ditransmisikan. Jika sebelumnya pengkopian Alkitab memiliki resiko salah kopi karena dicatat manual, maka setelah adanya mesin cetak resiko ini menjadi tidak ada lagi.
Dalam kaitannya dengan pembaharuan gereja, dengan adanya mesin cetak, ide-ide dapat disebarluaskan dengan cepat dan luas. Sebelumnya ide-ide yang revolusioner lebih mudah untuk dilenyapkan, namun sekarang tidak lagi dengan adanya penemuan mesin cetak. Ide-ide menyebar dengan cepat dan menjangkau audiens yang lebih luas. Ide di Jerman dapat sampai di Perancis atau di Spanyol tanpa membutuhkan waktu yang lama. Dan, karena itu, tidak mudah untuk menekan pemahaman baru yang berkembang, karena seringkali pemahaman yang bersangkutan telah dianut di berbagai tempat sekaligus, jauh dari tempat asal pemahaman itu muncul.
Umat Allah senantiasa menemui perkembangan teknologi semacam ini dari masa ke masa. Mengenai cara transmisi Kitab Suci, misalnya. Awalnya isi Kitab Suci diturunkan dari generasi ke generasi lewat mulut ke mulut, mengandalkan ingatan sebagai mediumnya. Kemudian barulah ditulis di kertas. Dan dikopi satu persatu, secara manual, walau tentunya jumlah manuskrip yang tersedia sangatlah sedikit dan karena itu tetaplah budaya oral masih menjadi andalan utama dalam transmisi pengajaran Kitab Suci. Misalnya, ketika datanglah firman Tuhan kepada Yeremia agar Barukh menuliskan ulang segala perkataan yang tercantum di dalam sebuah kitab yang baru saja dibakar oleh Yoyakim, raja Yehuda (Yer 36.27-32). Kitab tersebut berisikan segala firman yang datang kepada Yeremia, dan karena kitab tersebut dibakar, maka perlu dituliskan kembali. Model mengkopi satu persatu secara manual ini terus bertahan selama hampir dua ribu tahun, yang baru kemudian tergantikan oleh pengkopian secara otomatis setelah penemuan mesin cetak. Dan, hari ini, sudah mun-cul dalam bentuk data digital, tersimpan dalam memori komputer ataupun alat komunikasi lainnya.
Dalam perjalanannya, gereja akan selalu menemui berbagai perkembangan teknologi seperti ini dari jaman ke jaman. Dan, karena itu gereja mesti bersikap bijak mengenai bagaimana memanfaatkan teknologi yang ada agar dapat digunakan untuk mewujudkan kasih Tuhan di muka bumi ini. Penggunaan mesin cetak mentransformasi bagaimana Kitab Suci itu ditransmisikan dan sejak saat itu Kitab Suci jauh lebih mudah untuk dijangkau semua orang, tua muda, perempuan laki-laki, kaya miskin, siapapun orangnya. Karena itulah, gereja mesti siap dengan berbagai macam perubahan teknologi dan tidak langsung menolaknya. (sep)