Hidup beribadah bukan sekadar panggilan kita sebagai orang percaya, tetapi lebih dari itu adalah kebutuhan. Melalui ibadah kita akan selalu diingatkan kepada ”Sang Sumber Hidup”, dan bahwa kita, betapa pun, adalah insan ciptaan. Dengan begitu kita bisa tetap ”eling dan waspada”. Mawas diri. Tidak patah arang dalam hamparan kesusahan, tidak lupa diri dalam gelimang kejayaan.
Dalam pengertian umum, keseluruhan hidup kita adalah ibadah. ”Persembahkan tu-buhmu sebagai persembahan yang kudus dan berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati,” demikian firman Tuhan (Roma 12:1). Dalam pengertian khusus, ibadah adalah ketika kita datang berbakti di gereja.
Maka, karena ke gereja itu adalah ibadah kepada Tuhan, marilah kita datang dengan sepenuh kegembiraan dan hormat kita. Seumpama kita datang bertamu kepada ”seseorang” yang sangat kita hormati dan agungkan; tentunya tdk dengan sembarangan dan asal-asalan datang. Betul bahwa ke gereja itu soal hati, bukan soal yang kelihatan dari luar. Tetapi ja-ngan lupa, apa yg tampak dari luar, biasanya itu merupakan cerminan dari dalam hati kita juga. Selamat beribadah.




