GPBB

...Our Home Church.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Sapaan Gembala

E-mail Print PDF

Dirgahayu Indonesia

Ke-65

17 Agustus 1945 – 9 Agustus 2010

 

”Pulihkanlah keadaan kami, ya Tuhan,

seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb”

(Mazmur 126:4)
 

Bucer dan kajian Alkitab

E-mail Print PDF

Salah satu kontribusi Martin Bucer dalam gerakan Reformasi adalah penekanannya terhadap metode historis dlm mengkaji Alkitab. Hal ini kontras dengan praktek yang lebih umum saat itu, dimana nuansa alegoris perikop-perikop Alkitab memiliki tempat yang lebih utama ketimbang nuansa literal. Saat itu akademisi-akademisi Alkitab terbiasa dengan metode kajian Alkitab yang sistematis dalam menggali nuansa alegoris perikop-perikop ini. Nuansa-nuansa yang tidak kasat mata, dan hanya dapat dilihat dengan mata ‘iman.’ Seba-liknya, Bucer mencoba menekankan kembali pentingnya nuansa literal dari perikop-perikop ini. Bukan berarti nuansa literal ini dapat kelihatan dengan kasat mata pula, karena hal ini membutuhkan pendalaman segala latar belakang sejarah yang ada di balik perikop yang sedang kita baca. Konteks tempat, misalnya. Apa signifikansi tempat-tempat ini di dalam perikop tsb.? Atau, arti dari kosa kata yang digunakan itu sendiri. Bukankah sebuah kata dapat melalui pergantian makna seiring dgn waktu? Dan, jika iya, bukankah penting jika kita dapat menggali arti masing-masing kata ini jika mereka didengar di masa mereka diucapkan? Hal ini yang coba ditekankan oleh Bucer, yaitu, pentingnya mengkaji Alkitab seturut dengan konteks historis perikop yang bersangkutan.

Hal ini sesungguhnya menyimbolkan betapa ia ingin menghargai dan menghor-mati Alkitab sepenuhnya. Dan hal ini bagi Bucer berarti untuk membacanya dan memak-nainya sesuai dengan maknanya mula-mula jika perikop ini dibaca oleh pembaca perta-manya. Kecintaan terhadap Alkitab ini juga merupakan tradisi yang dimiliki oleh umat Tuhan sejak jaman PL. Mazmur 119, misalnya, ditulis oleh seseorang pemazmur yang begitu mencintai Firman Tuhan dan mengekspresikan cintanya ini lewat sebuah puisi kepada Firman Tuhan: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mzm 119.105) Jemaat mula-mula pun memiliki cinta yang serupa.  Jemaat di Berea, misalnya, yang dikisahkan bagaimana “setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.” (Kis 17.11) Apa yang mereka selidiki? Perkataan dari Paulus dan Silas (Kis 17.10). Ya, bahkan perkataan dari Paulus dan Silas pun mereka selidiki, apakah memang benar demikian sesuai dengan Kitab Suci. Hal ini melukiskan betapa cintanya mereka terhadap Kitab Suci ini. Teladan dari umat Tuhan, dari era Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, dan sepanjang sejarah gereja ini sepatutnya kita tiru pula. Agar kita memiliki api yang berkobar-kobar yang sama di dalam hati kita untuk membaca dan menekuni Kitab Suci yang kita miliki. Dan, bukan saja untuk membaca dan menekuninya, namun juga untuk menghayati dan melakukannya di dalam kehidupan kita sehari-hari. Layaknya ujar sang pemazmur, “Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat Tuhan.” (Mzm 119.1) (sep)

 


Page 4 of 193

Picture of the Day

 
Tidak Menjadi Serupa dengan Dunia - 05/07/2009
 

Date: 07/05/2009 Views: 141

GPBB Upcoming Events

11.09.2010 16:30 - 18:00
Persekutuan Pemuda

12.09.2010 09:00 - 10:30
Kebaktian Umum 1

12.09.2010 11:00 - 12:30
Kebaktian Umum 2

18.09.2010 16:30 - 18:00
Persekutuan Pemuda dan KKM

19.09.2010 09:00 - 10:30
Kebaktian Umum 1

Who's Online

We have 3 guests online