GPBB

...Our Home Church.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Renungan Minggu Ini

Meributkan yang (Tidak) Penting

E-mail Print PDF

                     Pada tahun 1550, gerakan reformasi gereja Eropa Barat sudah menyebar dan berkembang sampai ke Inggris. John Hooper, salah seorang tokoh reformasi yang sebelumnya sempat lari ke Eropa daratan untuk menghindari penganiayaan di Inggris, akhirnya kembali ke negaranya. Ia kemudian diangkat menjadi uskup untuk jemaat di Gloucester. Akan tetapi proses penahbisannya tidak berlangsung lancar. Ini disebabkan karena penolakannya untuk mengenakan pakaian yang biasa dipakai oleh para imam di Inggris saat itu. Pakaian yang dimaksud adalah jubah (surplice) dan sehelai kain yang digantungkan di bagian belakang jubah tersebut (cope). Ia berpendapat bahwa pakaian tersebut tidak sesuai dengan ajaran Alkitab karena tidak tercatat dipergunakan oleh gereja mula-mula. Ia juga berpendapat bahwa pakaian demikian lebih cocok kepada sistem keimaman Yahudi daripada kekristenan.

                    Penolakannya ini membuat para tokoh reformasi yang lain, termasuk Martin Bucer, turun tangan untuk menyelesaikan persoalan yang ada. Para tokoh reformasi ini di satu sisi setuju kepada Hooper bahwa aturan berpakaian imam tersebut tidak tertulis di Alkitab. Tapi mereka juga berpendapat bahwa hal ini tidaklah perlu terlalu dipermasalahkan. Secara spesifik Bucer berpendapat bahwa ada banyak masalah gereja yang lebih penting dan lebih layak untuk dipermasalahkan, seperti kurangnya jumlah pendeta, kurangnya maksimalnya fungsi penggembalaan jemaat oleh para pendeta, kebutuhan akan bahan katekisasi dan penegakan disiplin gereja.

Read more...
 

Etis dan Tidak Etis

E-mail Print PDF
                      Usaha dan niat Martin Bucer untuk menyatukan perbedaan-perbedaan dalam aliran dan tokoh-tokoh reformasi waktu itu patut kita acungi jempol. Dengan tidak mengenal lelah dan tanpa henti-hentinya, Bucer mengajak kalangan-kalangan yang berbeda pendapat duduk dan berdiskusi bersama untuk menemukan jalan keluar. Pada tahun 1524, Bucer menulis sebuah buku berjudul Apologia, yang bertujuan untuk mengakomodasi perbedaan pendapat akan ajaran Alkitab. Menurut Bucer, perbedaan pemahaman tentang Alkitab sangat mungkin terjadi dan itu bukan masalah besar, selama pihak yang berbeda pendapat mempunyai iman yang serupa kanak-kanak. Khususnya perbedaan mengenai perjamuan Kudus, Bucer cenderung berpihak kepada Zwingli, namun demikian ia tetap menerima pihak Luther sebagai saudara dalam Kristus, karena mereka memiliki iman dengan dasar yang sama.

                    Akan tetapi semangat untuk menyatukan perbedaan pendapat yang Bucer lakukan nampaknya melewati batas. Pada tahun 1526, Bucer menerbitkan dua terjemahan dari karya Luther dan Yohanes Bugenhagen, dengan memberikan tambahan intepretasi Bucer mengenai perjamuan kudus kedalam karya kedua orang itu. Tindakan Bucer itu justru membuat teolog dari Wittenberg marah dan merusak hubungan antara Bucer dengan para teolog. Dalam kelanjutannya, Luther kemudian menerbitkan penjelasan detail mengenai pemahamannya atas persekutuan (dengan Kristus) melalui perjamuan sakramen, yang mendapat respon dari Bucer (dalam upayanya meredakan ketegangan antara Luther dengan pihak lain). Namun, sekali lagi, Luther merasa tersinggung dan menolak interpretasi dari Bucer. 

                   

Read more...
 

Menegur Dengan Tepat

E-mail Print PDF

                     Martin Bucer, salah seorang tokoh reformasi gereja Eropa Barat, dulunya adalah seorang biarawan dari Ordo Dominikan, pengikut ajaran Aquinas dan skolastisisme. Tetapi setelah pertemuannya dengan Martin Luther tahun 1518, pemahaman teologianya bergeser menjadi seiring sejalan dengan teologia Luther. Dalam perkembangan selanjutnya, Bucer juga menjalin relasi yang baik dengan para tokoh reformasi lainnya, juga tokoh-tokoh humanisme di zaman itu. Namun demikian, ia tetap dengan kehidupannya sebagai biara-wan Dominikan.

                     Sampai akhirnya tahun 1520, seorang biarawan Dominikan yang bernama Jacob van Hoogstraaten berusaha menganiaya Bucer karena pandangan teologianya tersebut. Van Hoogstraaten sendiri selain biarawan adalah juga seorang inkuisitor (agen gereja Roma yang mengurusi sekte dan bidat). Ia ingin menjadikan Bucer sebagai contoh bagi para pengikut Luther agar gerakan ini dapat dibendung. Bucer lalu menghubungi Wolfgang Capito, salah seorang tokoh reformasi, untuk meminta pertolongannya. Capito kemudian membantunya untuk melepaskan kaul sebagai biarawan. Tanggal 29 April 1952 Bucer pun secara resmi meninggalkan ordo Dominikan.

                    Perlakuan yang dialami Bucer yang mendorongnya untuk meninggalkan komunitas biaranya seringkali juga terjadi di kehidupan gereja zaman ini. Seorang warga jemaat yang dianggap telah menyimpang dari standar yang dipegang oleh Gereja ditindak dengan tidak tepat. Akibatnya bukannya orang itu bertobat, ia malah meninggalkan komunitas Kristen tempat ia bernaung selama ini. Dampak ke depannya, bisa-bisa komunitas itu malah menjadi kompromistis karena takut untuk memberi teguran lagi. Ini tentu sesuatu yang tragis dan harus dihindari. Tetapi bagaimanakah cara menegur yang tepat?

Read more...
 

Bucer dan kajian Alkitab

E-mail Print PDF

Salah satu kontribusi Martin Bucer dalam gerakan Reformasi adalah penekanannya terhadap metode historis dlm mengkaji Alkitab. Hal ini kontras dengan praktek yang lebih umum saat itu, dimana nuansa alegoris perikop-perikop Alkitab memiliki tempat yang lebih utama ketimbang nuansa literal. Saat itu akademisi-akademisi Alkitab terbiasa dengan metode kajian Alkitab yang sistematis dalam menggali nuansa alegoris perikop-perikop ini. Nuansa-nuansa yang tidak kasat mata, dan hanya dapat dilihat dengan mata ‘iman.’ Seba-liknya, Bucer mencoba menekankan kembali pentingnya nuansa literal dari perikop-perikop ini. Bukan berarti nuansa literal ini dapat kelihatan dengan kasat mata pula, karena hal ini membutuhkan pendalaman segala latar belakang sejarah yang ada di balik perikop yang sedang kita baca. Konteks tempat, misalnya. Apa signifikansi tempat-tempat ini di dalam perikop tsb.? Atau, arti dari kosa kata yang digunakan itu sendiri. Bukankah sebuah kata dapat melalui pergantian makna seiring dgn waktu? Dan, jika iya, bukankah penting jika kita dapat menggali arti masing-masing kata ini jika mereka didengar di masa mereka diucapkan? Hal ini yang coba ditekankan oleh Bucer, yaitu, pentingnya mengkaji Alkitab seturut dengan konteks historis perikop yang bersangkutan.

Hal ini sesungguhnya menyimbolkan betapa ia ingin menghargai dan menghor-mati Alkitab sepenuhnya. Dan hal ini bagi Bucer berarti untuk membacanya dan memak-nainya sesuai dengan maknanya mula-mula jika perikop ini dibaca oleh pembaca perta-manya. Kecintaan terhadap Alkitab ini juga merupakan tradisi yang dimiliki oleh umat Tuhan sejak jaman PL. Mazmur 119, misalnya, ditulis oleh seseorang pemazmur yang begitu mencintai Firman Tuhan dan mengekspresikan cintanya ini lewat sebuah puisi kepada Firman Tuhan: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mzm 119.105) Jemaat mula-mula pun memiliki cinta yang serupa.  Jemaat di Berea, misalnya, yang dikisahkan bagaimana “setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.” (Kis 17.11) Apa yang mereka selidiki? Perkataan dari Paulus dan Silas (Kis 17.10). Ya, bahkan perkataan dari Paulus dan Silas pun mereka selidiki, apakah memang benar demikian sesuai dengan Kitab Suci. Hal ini melukiskan betapa cintanya mereka terhadap Kitab Suci ini. Teladan dari umat Tuhan, dari era Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, dan sepanjang sejarah gereja ini sepatutnya kita tiru pula. Agar kita memiliki api yang berkobar-kobar yang sama di dalam hati kita untuk membaca dan menekuni Kitab Suci yang kita miliki. Dan, bukan saja untuk membaca dan menekuninya, namun juga untuk menghayati dan melakukannya di dalam kehidupan kita sehari-hari. Layaknya ujar sang pemazmur, “Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat Tuhan.” (Mzm 119.1) (sep)

 

Keutamaan Kristus

E-mail Print PDF

                       Salah satu kontribusi Martin Bucer dalam gerakan Reformasi adalah pemahamannya mengenai relasi antara gereja dan negara, yang juga menjadi pergumulan gereja sampai saat ini. Saat itu ada beberapa pemahaman lain yang berkembang dan dianut.

                      Pertama, pemahaman bahwa gereja berada di atas negara, yang saat itu dianut oleh tradisi Katolik Roma. Implikasi dari pemahaman ini adalah Paus memiliki otoritas yang lebih tinggi dari raja-raja saat itu dan karena itu dapat memerintah raja-raja. Kedua, pemahaman yang dianut oleh Martin Luther dalam meresponi pemahaman pertama ini. Yaitu, bahwa gereja dan negara merupakan dua kerajaan yang berbeda dan memiliki otoritas di bidang masing-masing. Karena itu, sepatutnya keduanya bekerja sama dalam menjalankan otoritasnya ini dalam masyarakat. Jika gereja memliki otoritas dengan Firman, maka negara memiliki otoritas dengan pedang. Ketiga, pemahaman yang dianut oleh kaum Anabaptis, dimana gereja sepenuhnya independen dari negara dan karena itu negara sebaiknya tidak perlu ikut campur dalam urusan gereja.

                     Mengenai hal ini, Bucer setidaknya dapat sepakat dengan poin kaum Anabaptis yaitu bahwa gereja sepatutnya independen dari negara, namun di sisi lain Bucer juga percaya bahwa gereja sepatutnya juga berusaha untuk mentransformasi negara dan masyarakat. Hal ini didasari kepercayaannya bahwa keutamaan Kristus sepatutnya dapat berlaku di setiap aspek masyarakat, dan bukan hanya di dalam lingkungan gereja. Kuncinya adalah keutamaan Kristus di dalam setiap jengkal kehidupan.

                    Keutamaan Kristus ini diyakini pula oleh Rasul Paulus. “Pada kayu salib, Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa” (Kol 2.15), tulisnya dalam suratnya kepada jemaat di Kolose. Dan, karena itu, “dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi.” (Fil 2.10) Kristus adalah Tuhan, dan Kaisar bukan. Proklamasi publik demikianlah yang membuat Paulus terkena masalah ketika ia mengabarkan Injil di Tesalonika, karena mereka dituduh telah “bertindak melawan ketetapan-ketetapan Kaisar dengan mengatakan, bahwa ada seorang raja lain, yaitu Yesus.” (Kis 17.7)

                    Bercermin dari teladan Bucer dan Paulus, kita didorong untuk mengikuti jejak yang telah mereka tapak. Alegiansi kita sekiranya ditujukan kepada Kristus dan Kristus semata. Kristus bukan saja menjadi Tuhan dalam hidup pribadi kita, namun juga dalam kehidupan publik kita. (sep)

 

Persatuan Gereja

E-mail Print PDF

                        23 Agustus 1948 adalah salah satu tanggal bersejarah dalam sejarah kekristenan modern. Saat itu, perwakilan dari berbagai gereja di dunia berkumpul di kota Amsterdam, Belanda, untuk membahas tentang persatuan gereja dunia. Pada pertemuan itu pulalah organisasi World Council of Churches (WCC) (Dewan Gereja Dunia) resmi terbentuk. Tujuan dibentuknya organisasi ini adalah untuk mengejar persatuan (ekumenisme) gereja yang nampak dalam kebersamaan dalam Kristus dan dalam kesaksian dan pelayanan bagi dunia supaya dunia akan percaya. Dalam perkembangannya, gerakan ini terus berkembang baik secara jumlah anggota maupun pengaruhnya, meski masih banyak tantangan dan tugas yang harus dikerjakan. Di Indonesia, organisasi ini diwakili oleh Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI).

                       Akan tetapi pertemuan pada tahun 1948 itu bukanlah usaha pertama dalam sejarah untuk mempersatukan gereja-gereja di dunia. Sepanjang sejarahnya, berkali-kali para pemimpin gereja bertemu untuk membahas, mengusahakan dan menjaga kesatuan Gereja. Termasuk yang pernah diusahakan oleh Martin Bucer pada jaman ketika reformasi Gereja Eropa Barat sedang berkembang pesat. Martin Bucer sendiri adalah seorang tokoh reformasi di Strasbourg, Perancis.

Read more...
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 37

Picture of the Day

 
Keb_Gab 01
 

Date: 07/27/2008 Views: 52

GPBB Upcoming Events

11.09.2010 16:30 - 18:00
Persekutuan Pemuda

12.09.2010 09:00 - 10:30
Kebaktian Umum 1

12.09.2010 11:00 - 12:30
Kebaktian Umum 2

18.09.2010 16:30 - 18:00
Persekutuan Pemuda dan KKM

19.09.2010 09:00 - 10:30
Kebaktian Umum 1