Kotbah

Perumpamaan Tentang Dua Orang Anak (Matthew 21:28-32)

Pdt. Abraham Ruben PersangPdt. Abraham Ruben Persang, June 10, 2018
Part of the series, preached at a Sunday Morning service

Perumpamaan tentang dua orang anak merupakan bagian utuh dari pengajaran Tuhan Yesus tentang inti hidup beriman (percakapan dan pengajaran tentang hal ini sudah terjadi dari pasal 19). Melalui perumpamaan tersebut diungkapkan bahwa sikap dan tindakan dari dua anak, menunjukkan tiga hal, yaitu: keaslian (authenticity), kesadaran (awareness), dan kedewasaan (maturity). Keaslian sikap dan tindakan akan melahirkan kesadaran; dan kesadaran itu tumbuh karena adanya kepekaan dari relasi anak dengan orangtua. Lalu kesadaran yang benar menjadi bermakna ketika diikuti dengan kedewasaan sikap dan tindakan.

Lewat perumpamaan ini Tuhan Yesus mau mengkritisi pola dan kebiasaan hidup beragama (beriman) yang dipraktekkan oleh sebagian umat dan kalangan imam pada saat itu. Hidup beriman (living faithfully) bicara soal:
1. Orisinalitas (authenticity): Hidup beriman itu harus asli di hadapan Tuhan, pada prakteknya masih ada gereja dan orang Kristen yang sibuk dengan berbagai simbol, asesoris bahkan kosmetik rohani tapi pesan yang sesungguhnya memberitakan Kristus dan hidup dalam Kristus tidak sampai.
2. Spiritualitas (spirituality): Seringkali ibadah dijalankan tapi spiritualitas nya tidak ada, kehilangan jiwanya. Kita banyak mengungkapkan doa yang luar biasa tapi hanya sebatas kalimat dan formulasi ritual dan seringkali mengabaikan atau bahkan tidak menunjukkan jiwa yang berbicara kepada Tuhan.
3. Kualitas (quality): Hidup beriman berbicara tentang kualitas hidup. Tuhan memberikan hidup, tapi banyak dari kita yang hidup pesimis, tidak berbuat apa-apa, dan tidak menjadi berkat.

Perumpamaan tentang dua anak ini bicara tentang hidup beriman, yang asli di hadapan Tuhan, punya jiwa spiritualitas yang baik, dan kemudian menghasilkan kualitas hidup yang baik. Dengan tiga hal tersebut, maka hendaknya kita dapat melanjutkan hidup beriman, beribadah dan bersaksi dengan:
tulus dan bukan (mengejar) status.
komitmen dan bukan (membuat) statement.
Integritas dan bukan (sibuk dengan) identitas.

Ada ketulusan, ada komitmen, ada integritas, itu refleksi kita sebagai jemaat, sebagai pelayan Tuhan, sebagai gereja Tuhan, kita diutus ke dalam dunia, dibarui-Nya, menjadi alat-Nya dan menjadi berkat-Nya.

(Pdt. Abraham Ruben Persang)

Tags:

Earlier: Same day: Later:
« Perumpamaan Tentang Pohon Ara Yang Tidak Berbuah None Perumpamaan Tentang Lalang di Antara Gandum »
ERROR: The IP key is no longer supported. Please use your access key, the testing key 'TEST'
Powered by Sermon Browser