Kotbah

Perumpamaan Tentang Harta Terpendam dan Mutiara yang Berharga (Matthew 13:44-46)

GI Dr. Denny Boy Saragih, June 24, 2018
Part of the series, preached at a Sunday Morning service

Perumpamaan ini mengajarkan bahwa Kerajaan Surga itu sangat berharga sehingga apa pun layak dikorbankan untuk mendapatkannya. Bagaimana kita menyikapinya?

1. Pastikan bahwa kita sedang menghidupi dan mengerjakan Kerajaan Surga
Tindakan sang pekerja dan pedagang dalam perumpamaan ini mengandung risiko yang besar. Mereka menjual seluruh harta miliknya untuk membeli tanah/mutiara. Benar, seperti perumpamaan biji sesawi dan ragi, Kerajaan Surga itu akan menjadi besar, berbuah, berpengaruh dalam segala hal. Namun kita perlu memastikan itu adalah Kerajaan Surga.

Kita harus hati-hati menyikapi realitas Kerajaan Surga dalam wujud lembaga-lembaga ‘duniawi’, misalnya Kerajaan Surga dapat mewujud dalam bentuk:
- Satu gereja tapi tidak identik dengan eksistensi gereja tersebut
- Satu keluarga tapi tidak identik dengan hubungan keluarga
- Satu perusahaan tapi tidak identik dengan karir dan kesuksesan

Perlu ada “Christian mind” untuk menilai terus menerus bahwa yang kita lakukan adalah untuk
Kerajaan Surga.

2. Yakini bahwa Kerajaan Surga lebih berharga dari apa pun di dunia ini
Tindakan sang pekerja dan pedagang sama (ayat 44,46): “...menjual seluruh miliknya...”. Orang bisa menilai tindakan ini tidak bijaksana dan kebablasan. Namun sesungguhnya, komitmen yang terbesar bukan dilakukan oleh manusia, tetapi oleh Allah kepada manusia di atas salib. Yesus menggadaikan ke “Allah”-an-Nya untuk menyelamatkan manusia.

Hidup sebagai warga kerajaan Surga adalah menjalani pilihan-pilihan yang melihat bahwa kerajaan Surga lebih berharga dari keuntungan jangka pendek. Di sinilah letak kebenaran bahwa mengikut Yesus adalah memikul salib dan menyangkal diri setiap hari, karena kita tahu bahwa kita melakukan sesuatu yang jauh lebih berharga dari apa pun di dunia ini.

3. Tempatkan kerajaan Surga pada pusat kehidupan anda dan keluarga
Selanjutnya, Kerajaan Surga harus lah menjadi pusat kehidupan dalam segala aspek kehidupan: pekerjaan, karir, keluarga, parenting, pelayanan dan lain sebagainya. Mencintai Tuhan haruslah lebih besar dari segalanya, mendidik anak, meniti karir, karena kita melakukannya dengan “kuk yang ringan”.

Banyak orang yang memiliki impian dan mewujudkannya secara radikal. Namun, ada juga yang mewujudkannya dalam kehidupan yang wajar dan tenang. Bila kita tempatkan Kerajaan Surga sebagai pusat kehidupan kita, apapun wujudnya, maka aplikasinya haruslah membuat hidup lebih ringan. Inilah kunci memiliki impian yang besar namun hati tetap tenang.

Tags:

Earlier: Same day: Later:
« Perumpamaan Tentang Lalang di Antara Gandum None Kehadiran Yang Berdampak »
ERROR: The IP key is no longer supported. Please use your access key, the testing key 'TEST'
Powered by Sermon Browser