Kotbah

Mewariskan Iman ()

Pdt. Joseph TheoPdt. Joseph Theo, August 5, 2018
Part of the Bulan Misi 2018 series, preached at a Pembinaan Jemaat service

Di keluarga zaman sekarang, momen-momen keluarga seperti berdoa bersama ataupun membaca Alkitab bersama menjadi sesuatu yang langka. 2 Timotius 1 mengingatkan kita akan pentingnya peran orang tua, dalam hal ini Eunike (ibu Timotius) dan Lois (nenek Timotius), dalam menumbuhkan iman anak-anak. Pesan inti dari 2 Timotius 1 adalah:

1. Iman harus diestafetkan sejak kanak-kanak (Ayat 3-5)
Menurut Ernest Harms dalam jurnal “The Development of Religious Experience in Children”, perkembangan religius seorang anak dapat terjadi dalam 3 tahapan:
1. The Fairy Tale Stage (Tingkat Dongeng: 3-6 tahun)
Dalam tahap ini, konsep anak tentang Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Cara penyampaian sangat penting dan anak akan lebih tertarik jika konsep yang mereka dengar berhubungan dengan childhood mereka. Menghafal juga adalah bagian penting. Di sini, konsep “Tuhan sebagai Bapa” mendominasi.
2. The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan: 7-12 tahun)
Dalam tahap ini, konsep Tuhan sebagai Bapa mulai beralih ke Tuhan sebagai pencipta. Anak-anak di usia ini cenderung mulai berpikir logis dan banyak bertanya-tanya.
3. The Individual Stage (Tahap Individu: 13-18 tahun)
Memasuki usia remaja, konsep Tuhan menjadi lebih personal, humanistik dan berkorelasi dengan kehidupan nyata. Mereka sering mempertanyakan, bahkan meragukan agama. Di tahapan ini agama sebaiknya diajarkan dengan menghubungkan (aplikasi) - “Apa hubungannya dengan saya?” Pergumulan terberat di tahap individu ini adalah: jika imannya menang, ia akan menjadi seorang yang religius; tetapi bila ia tidak menemukan jawaban, kemungkinan besar akan menjadi free thinker yang sulit untuk percaya (kecuali dengan peristiwa mujizat).
Oleh sebab itu, saat paling tepat untuk mewariskan iman kepada anak-anak adalah di usia 0 sampai dengan 12 tahun.

2. Iman diwariskan dengan cara: Pegang (mendidik, bukan cuma mengajar), Pelihara(diskusikan, bukan cuma mendoktrinkan) dan Contohkan (Mat 5:16 - lakukan iman dalam perbuatan nyata bukan cuma slogan). Iman bukan diwariskan sebagai barang jadi, melainkan melalui proses appropriation dua arah: 1. Generasi tua hidup dalam iman 2. Generasi muda memilah, mengolah dan mengembangkan iman menjadi bagian hidupnya.

3. Jangan malu bersaksi tentang Kristus (dan jangan malu-maluin Kristus!)

Tags:

Earlier: Same day: Later:
« Berlomba Maju dan Tekun None Panggilan Untuk Ikut Menderita »
Powered by Sermon Browser