Kotbah

Keluargaku adalah Rumahku (Titus 2:1-8)

GI Yudi Jatmiko, September 9, 2018
Part of the Bulan Keluarga 2018 series, preached at a Sunday Morning service

Home sweet home adalah suatu hal yang awalnya didambakan pasangan muda, yang baru punya anak, atau bagi yang baru pindah rumah. Tapi sering juga pada akhirnya rumah menjadi tidak lagi “sweet” atau hambar karena disibukkan dengan kesibukan sehari hari. Akhirnya keluarga yang harmonis dan takut akan Tuhan tidak lagi menjadi prioritas utama. Hal sama terjadi pada jemaat di Kreta. Paulus pertama kali membawa Titus (saat misi ke 3) untuk menunjukkan kecukupan dari injil Kristus, tanpa perlu ditambah dengan praktik Yudaisme untuk diselamatkan (misal: harus disunat, harus ikut tradisi Yudaisme, dll). Saat itu jemaat yang Titus gembalakan mengalami berbagai pergumulan khususnya dalam hal hidup yang tidak tertib (dalam arti sulit tunduk/ taat pada kebenaran Firman Tuhan) oleh karena pengaruh Yudaisme (Titus 1:10).

Titus kemudian ditugaskan untuk memberitakan ajaran sehat pada semua kalangan jemaat Kreta:
- Bagi para laki laki yang tua (ayat 2) untuk hidup sederhana (hidup dengan penuh rasa syukur), terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan.
- Bagi para perempuan tua (ayat 3-5) untuk hidup sebagai orang2 beribadah (betul2menghargai Tuhan di hidupnya), jangan memfitnah (gosip), jangan jadi hamba anggur, mendidik perempuan muda untuk hidup bijaksana, suci, rajin atur rumah tangga, dan baik hati serta taat pada suaminya.
- Bagi para orang muda (ayat 6) untuk menguasai diri dalam segala hal.
- Yang terakhir bagi Titus sendiri (ayat 7-8) untuk jadi teladan bagi jemaat Kreta.

Melalui semua ini akhirnya pemahaman/ pengajaran yang baik tentang firman Tuhan akan diwujudkan dalam hidup keluarga yang harmonis. Tujuannya supaya firman Tuhan jangan dihujat orang, melainkan agar orang lain mendapat berkat dari kehidupan keluarga Kristen yang menjadi teladan.

Apa yang bisa kita pelajari dari perikop ini?
1. Mewaspadai nilai nilai yg berkembang dalam masyarakat di mana kita hidup.
a. Hal nilai pernikahan Kristen: ketika kita sibuk, apa kita menjaga janji pada Tuhan melalui altar keluarga dan tetap berdoa bersama sebagai satu keluarga?
b. Hal parenting: ketika anak semakin bertumbuh, urusan mereka juga akan makin banyak (tuition, PSLE, dll). Orang tua juga akan semakin sibuk atur waktu. Dalam hal ini, lawan godaan Iblis kalo anak kita itu sumber masalah / memahitkan hidup kita.
2. Menjadi teladan dalam menghidupi firman Tuhan. Kalau hanya sekadar membangunrumah tangga, maka Tuhan tidak diperlukan (karena banyak keluarga non Kristen yang juga harmonis), tapi kalau kita mau keluarga kita menjadi rumah rohani yang dihuni dan diberkati Tuhan Yesus maka kita harus meminta Tuhan yang membangun dan menjadikan FirmanNya sebagai landasan. Sebab sia - sia segala hal apabila bukan Tuhan yang membangun.

Tags:

Earlier: Same day: Later:
« Keluargaku adalah Gerejaku None Keluargaku Adalah Ucapan Syukurku »
ERROR: The IP key is no longer supported. Please use your access key, the testing key 'TEST'
Powered by Sermon Browser