Kotbah

Keluargaku Adalah Ucapan Syukurku (1 Thessalonians 5:18)

Pdt. Ferry Mamahit, September 16, 2018
Part of the Bulan Keluarga 2018 series, preached at a Sunday Morning service

Keluarga adalah anugerah dimana kita bisa bersyukur. Namun, bagaimana kita bisa bersyukur di tengah keluarga yang banyak permasalahan, persengketaan, orang tua jarang bersama keluarga demi mengejar karir, ada perceraian dan jika ada anggota yang sudah meninggal?

Jika kita boleh tidak bersyukur, rasul Paulus merupakan orang yang paling tepat untuk tidak bersyukur. Ketika ia berada dalam penjara di Efesus, tempat dimana hampir tidak ada kebebasan dan penuh dengan kesusahan. Jemaat di Efesus mengalami persekusi oleh karena iman mereka. Mereka diberi ke binatang buas, dibakar hidup-hidup untuk menjadi lampu penerang di istana kaisar. Keluarga dan teman mereka disiksa. Bagaimana bisa bersyukur?

Apakah ada jalan keluar dari kebiasaan tersebut? Pasti ada, yaitu harapan yang bukan ditujukan terhadap diri sendiri tetapi terhadap Allah. Selama rasul Paulus di penjara, dia tetap menasihati jemaat untuk mengucap syukur terhadap Allah. Ucapan syukur tersebut didasari atas siapakah Allah dan apa yang Dia lakukan. Di tengah kesulitan kita, Allah yang berdaulat sanggup mengubah keadaan kita di hari ini. Allah berdaulat atas kehidupan, yang dapat mendatangkan kebaikan dibalik hal-hal buruk.

Semua penderitaan kita akan hilang ketika Yesus datang kembali. Hidup kita saat ini merupakan proses pengudusan atau “sanctification of life” dimana kita diubahkan menjadi semakin mirip dengan Kristus. Ucapan syukur merupakan salah satu tanda kematangan hidup di dalam Kristus. Ini dapat dilihat di saat sebelum penyaliban dan perjamuan terakhir, mereka makan dan bergembira. Dan kemudian di Markus 14: 26, mereka bernyanyi.

Ketika Yesus disalib, dia berkata “Eli Eli Lama Sabachthani”, dan kita berpikir dia menangis. Namun ungkapan tersebut berasal dari Mazmur 22, yang merupakan mazmur puji-pujian. Yesus bersyukur karena dia tahu apa yang terjadi dalam diriny ada di dalam kedaulatan Allah.

Kita harus membuat ucapan syukur menjadi sebuah kebiasaan, yang akan membuat kita semakin serupa dengan Kristus. Di dalam bulan keluarga, baiklah kita sebagai keluarga mengucap syukur. Bukan karena apa yang kita rasakan, tetapi akan apa yang kita percayai. Kepercayaan kita terhadap Allah yang penuh dengan anugerah dan sanggup membalikkan segala sesuatu demi kebaikan kita.

Maukah anda bersyukur di tengah permasalahanmu? Rick Warren, salah satu pendeta Kristen berkata: “In happy moments, praise God. In difficult moments, seek God. In Quiet moments, worship God. In painful moments, trust God. In every moment, thank God.”

Tags:

Earlier: Same day: Later:
« Keluargaku adalah Rumahku None Keluargaku adalah Solidaritasku »
ERROR: The IP key is no longer supported. Please use your access key, the testing key 'TEST'
Powered by Sermon Browser