Kotbah

Keluargaku adalah Solidaritasku (Acts 4:32-37)

Pdt. Petrus Budi Setyawan, September 23, 2018
Part of the Bulan Keluarga 2018 series, preached at a Sunday Morning service

Kitab Para Rasul 4:32-37 menceritakan jemaat mula-mula yang menjual harta miliknya dan membawanya ke para Rasul, dan kemudian dibagi-bagikan ke banyak orang. Banyak orang berpikir ini menginspirasikan gagasan sistem komunis yang tidak mengenal si kaya dan si miskin. Namun kalau kita membaca secara teliti, cerita ini TIDAK mengatakan orang-orang menjual semua yang dimilikinya dan dibawa di depan para rasul, karena kalau hal ini yang terjadi maka ini akan menimbulkan problem baru karena akan banyak orang yang tidak memiliki apa-apa. Yang sebenarnya terjadi adalah orang-orang yang berkelebihan, yang memiliki harta yang tidak terlalu dibutuhkan, mengumpulkan kelebihannya untuk dibagibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Terjadi saling menolong, ini adalah spirit di dalam komunitas orang-orang percaya, bukan sama rata sama rasa. Jemaat mula-mula menjadi komunitas yang saling mendukung dan saling menolong.

Kita diperintahkan untuk saling menolong sesama terutama teman-teman seiman, bukan berarti tidak menolong orang yang tidak seiman karena pada dasarnya kita harus mengasihi semua orang, tapi perintah itu masuk akal karena kita lebih mengenal kebutuhan orang-orang di komunitas kita sehingga kita menjangkau orang-orang tepat, yang benar-benar membutuhkan. Berbagi kepada orang lain juga melatih kita untuk tidak serakah. Berbuat kasih juga adalah suatu kesaksian bahwa kita murid-murid Kristus dan karena Allah adalah kasih, sehingga berbagi kasih menjadi tanda sebagai komunitas orang percaya.

Dari kecil anak sudah terbiasa mendenar kata-kata posessive pronoun, seperti “ini milikku” dan semua harta yang kita dapatkan adalah hasil kerja keras sehingga anak akan lupa harta itu berasal dari Tuhan dan lupa kepada siapa syukur dinaikkan. Kita perlu mengajarkan anak bahwa harta itu adalah titipan Tuhan, apa kita miliki ada kemurahan Tuhan, dan kita hanya sebagai pengelola. Dengan demikian pertanyaan kita bukanlah berapa yang saya berikan kepada Tuhan tapi, berapa yang boleh saya pakai, karena semua itu milik Tuhan. Di saat anak-anak kita melihat ada anak-anak yang tidak seberuntung mereka, Allah hendak berkata supaya anak-anak kita mau berbagi titipan berkat dariNya kepada orang yang tidak seberuntung mereka. Tuhan bukakan mata ada orang yang berkekurangan supaya kita memberi.

Mari kita menjadi jemaat yang membangun karakter berbagi, karakter tidak serakah, karakter mengasihi sebagai bukti kalau kita adalah anak-anak Allah Yang Maha Kasih, sekaligus kita membangun kesaksian yang indah mulai dari keluarga sebagai keluarga yang berbagi.

Tags:

Earlier: Same day: Later:
« Keluargaku Adalah Ucapan Syukurku None Mengembangkan Karakter Peduli Sesama »
ERROR: The IP key is no longer supported. Please use your access key, the testing key 'TEST'
Powered by Sermon Browser