Kotbah

Kesepian dan Kehampaan Hidup (Matthew 11:28-30)

GI Yudi Jatmiko, October 14, 2018
Part of the series, preached at a Sunday Morning service

Banyak org yang mengalami tekanan hidup, tapi tidak semua punya resiliensi. Suicide statistics di Singapura menunjukkan bahwa kenyamanan & keamanan hidup tidak selalu berbanding lurus dengan kepenuhan hidup (life-fulfillment). Beberapa observasi:

  • Jumlah angka bunuh diri laki-laki > perempuan
  • Trend naik over years
  • Angka tertinggi
    • Laki-laki: 20-29 & 50-59
    • Perempuan: 30-39, 40-49
  • Paling sedikit 1 org mati bunuh diri di Singapura setiap hari (429 of 365)
  • Secara umur, tingkat kematian tertinggi adalah usia 20-29 (karena adaptasi kerja?) dan 50-59 (karena post-power syndrome?). Kita tidak tahu mengapa.

Singapura menjadi konteks kehidupan yang penuh kompetisi, tekanan dan menghadapi aging population (1 dari 4 berusia di atas 65). Kenyamanan & keamanan hidup yang ada tidak selalu berbanding lurus dengan kepenuhan hidup (life-fulfillment).

Pergumulan Umat Allah di Perjanjian Lama menceritakan bagaimana Israel ditindas & dijadikan budak oleh Firaun di Mesir selama 430 tahun. Hal itu membentuk pola pikir budak, hidup selalu berat, tidak ada harapan. Survival mode menjadi default mode of living - fokus pada makanan (bukan worshipping mode yang fokus pada iman). Tetapi Tuhan memberikan Musa kepada mereka. Pergumulan Umat Allah di Perjanjian Baru juga menceritakan bagaimana orang-orang Yahudi ditindas oleh bangsa Romawi.

Beberapa hal yang dapat kita pelajari:

  1. Reaksi manusia ketika berada dalam pergumulan (stress)
    • Complaining (mengeluh, protes)
    • Blaming (menyalahkan seolah Tuhan tidak perduli)
    • Numbing (mematikan perasaan; I’m perfectly fine and OK!)
    • Diversion (Apa yang baik bisa menjadi dosa, misalnya main games, makan, olahraga)
    • Pertanyaannya, apakah kita memilh reaksi yang sehat?
  2. Tuhan mendengar & mengerti
  3. Sumber kelepasan dan kelegaan hanya ada pada Tuhan

Kutipan dari Blaise Pascal mengatakan: "There is a God-shaped vacuum in the heart of every man which cannot be filled by any created thing, but only by God, the Creator, made known through Jesus." Dalam buku Finding God in My Loneliness, Lydia Brownback melihat berbagai aspek kesepian dan mengingatkan kita akan God created human beings with a capacity for loneliness so that we would yearn for and find our all in him. In other words, loneliness is an indicator that something is missing, and that something is found only in Jesus Christ.”

Tags:

Earlier: Same day: Later:
« Mengembangkan Karakter Peduli Sesama None SaudaraKu yang paling hina »
ERROR: The IP key is no longer supported. Please use your access key, the testing key 'TEST'
Powered by Sermon Browser