Kotbah

Mencintai Walau Harus Terluka (John 3:13-16)

GI Dr. Denny Boy Saragih, October 28, 2018
Part of the series, preached at a Sunday Morning service

Mother Teresa mengatakan: “Kasihilah sampai engkau terluka, maka perlahan luka itu sirna dan yang tertinggal adalah kasih yang semakin dalam.” Ada 3 pesan yang dapat diambil dari perikop Yohanes 3:13-16:

1. Ingatlah kembali akan kasih Allah.
Sesungguhnya Ia terluka karena kasih-Nya padamu (ayat 16: ... sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal...).
Apakah Allah bisa menderita? Bila ya, apakah artinya Allah bisa dipengaruhi dan dimanipulasi. Iman Kristen menyatakan tidak, walau Allah bisa menderita Ia tidak dipengaruhi. Allah mampu memilih untuk menderita. Marthin Luther berteologi “God crucified”, di mana Allah yang tersalib, memilih untuk menderita demi keselamatan manusia. Bapa, Anak dan Roh menderita dalam pengorbanan Kristus:

  • Anak berseru: Eli Eli lama sabakhtani - seperti anak yang tidak berbapa,
  • Bapa mendengar dan memandang Anak, dan harus berdiam diri dalam jeritan itu,
  • Roh Kudus dalam penderitaan itu mengkomunikasikan kepada Bapa bahwa Anak senantiasa mengasihi dan mentaati Bapa dan kepada Anak bahwa Bapa senantiasa mengasihi dan merindukan Anak.

2. Sadarilah bahwa Allah memberi perintah untuk mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri.
Sebagian besar orang mengasihi sesamanya, walaupun ada sebagian orang yang membenci sesamanya atau “memelihara” musuh karena alasan politik atau agama. Yang membedakan adalah kadar kasih kita. Umumnya, kadar kasih manusia pada sesama jauh lebih kecil daripada kepada diri sendiri.
Mengasihi sesama adalah aspek yang sangat penting dalam pertumbuhan rohani yang sejati dimana kita boleh belajar mengikis ego, menyangkal diri, dan untuk menjadi lebih baik lagi.

3. Belajar dan setialah mengasihi mereka meski engkau terluka ketika melakukannya.
Ini dimulai dari keluarga, dimana mengasihi dalam penderitaan dirancang Tuhan untuk kita pelajari dari orangtua dan sebagai orangtua. Di dalam itu, ada pemeliharaan Tuhan agar secara naluri budaya dan kehidupan sosial, kita bisa tetap mengasihi walaupun terluka.

Mengasihi sampai terluka kita pelajari secara bertahap. Tuhan memberikan kita rasa cinta dankeindahan perasaan untuk menyejukkan luka mencintai, baik dalam masa berpacaran, berlanjut sebagai pasangan suami istri, dan sebagai orangtua kepada anak.

Karena itu bila kita mengasihi seseorang kita perlu belajar:

  • Mendoakannya dan mengharapkan perubahan meskipun seolah tidak ada perubahan,
  • Setia ketika “rasa cinta” itu datang dan pergi dalam keseharian kita,
  • Meluaskannya pada lingkaran yang lebih besar hari lepas hari.

Tags:

Earlier: Same day: Later:
« SaudaraKu yang paling hina None Arti Sahabat »
ERROR: The IP key is no longer supported. Please use your access key, the testing key 'TEST'
Powered by Sermon Browser