Kotbah

Arti Sahabat (Proverbs 18:1-24)

Pdt. Djefrie Hidajat (STT Cipa, November 4, 2018
Part of the series, preached at a Sunday Morning service

Manusia didesain Tuhan sebagai mahluk sosial. Aritoteles mengatakan: “Manusia akan aneh kalau merasa bahagia hanya sendirian. Tidak ada hal baik yang dinikmati sendirian.” Jadi pada dasarnya, manusia itu adalah makhluk sosial yang harus hidup dengan orang lain. Kebahagiaan semestinya diperoleh dengan masyarakatnya atau dengan komunitasnya.

Dalam proses kehidupan, pada waktu bayi dan ketika sudah lanjut usia, kita perlu perawatan orang lain. Kita sangat membutuhkan orang-orang yang mengasihi kita. Memang hal ini sudah didesain oleh Tuhan. Jadi Aristoteles hanya mengatakan observasinya dan memformulasi dari pemikirannya saja.

Amsal tidak ditulis oleh Salomo saja. Sebenarnya 31 pasal dalam Amsal itu merupakan peribahasa yang diambil dari kearifan budaya saat itu dan disusun secara abjad berdasarkan alphabet Ibrani, yang dikumpulkan dengan topik-topik tertentu secara umum membicarakan orang berhikmat dan orang fasik. Dengan inspirasi dari Tuhan, tersusunlah kitab Amsal.

Amsal 31 ini sebenarnya tidak hanya sebagai istri: tapi merupakan apa yang dicari dari
seorang percaya.

Amsal 18 ditulis oleh Salomo, bisa menjadi landasan untuk pembahasan topik persahabatan karena: Ayat 1: menggambarkan orang fasik dan Ayat 24: memperlihatkan kecenderungan orang berhikmat. Ayat 22 terkait dengan ayat-ayat yang lain dalam topik hubungan sosial antara pasangan.

Sikap/sifat yang tidak disukai oleh teman (Fasik):
• Berpusat pada diri (ay.9,10,11,24);
• Berkata tidak baik (ay.3-4a, 7, 13,17);
• Tidak suka kebenaran (ay.5,16);
• Suka bertengkar (ay.6,8,18,19)
• Sikap-sikap tersebut bukanlah sikap/karakter kristiani.

Kalau kita tidak mau diperlakukan demikian,
janganlah melakukannya terhadap orang
lain.

Sikap/sifat yang disukai oleh teman
(berhikmat):

• Mulut dikaitkan dengan hikmat (ay.4)
• Mencari nama Tuhan sebagai sumber selamat (ay 10)
• Rendah hati mendahului kehormatan (ay.12)
• Bersemangat dapat menanggung penderitaan (ay.14)
• Mencari pengetahuan (ay.15)
• Sahabat karib bisa melebihi saudara (ay.24)

Dalam mencari teman/sahabat, dapat melalui tingkatan komunikasi sbb:
1. Basa-basi.
2. Hal-hal di luar diri.
3. Pendapat saya (sudah ada resiko);
4. Perasaan saya (pacaran /teman dekat);
5. Pribadi ke pribadi (menikah)

Manusia adalah mahluk sosial, jangan tinggalkan persekutuan. Bergabunglah dengan salah satu persekutuan atau bersahabat dengan seseorang yang berhikmat. Jauhilah orang-orang yang sulit, kalau kita terbeban, kita harus bersedia berkorban memberikan diri dan mendoakan mereka. Kita harus bersyukur kalau punya pasangan yang berhikmat. Sahabat yang sejati adalah Tuhan Yesus.

Tags:

Earlier: Same day: Later:
« Mencintai Walau Harus Terluka None Menjadi Sahabat »
ERROR: The IP key is no longer supported. Please use your access key, the testing key 'TEST'
Powered by Sermon Browser