Kotbah

Menjadi Sahabat (Romans 15:1-6)

Pdt. Petrus Budi Setyawan, November 11, 2018
Part of the series, preached at a Sunday Morning service

Apakah salah untuk tidak mau bersahabat? Apakah bersahabat itu pilihan atau keharusan? Sekarang bisa saja untuk seseorang tinggal di kamar terus tetapi punya 2-3 juta followers dan sepanjang hari bertemu temen-teman lintas negara. Perhatikan pola persahabatan yang berbeda. Yang pasti manusia diciptakan bukan untuk sekedar menambah umur dan menjaga kehidupannya. Betapa hidup kita sangat bergantung dengan orang lain. Mencari, menemukan, dan menjadi sahabat bukan lagi pilihan tapi suatu keharusan karena kita adaah makhluk yang diciptakan Allah untuk berkomunitas.

Ketika kita mencari sahabat, ada pola: orang seperti apa yang kita cari sebagai sahabat? Apakah yang nyambung? Yang nyambung seringkali adalah orang-orang yang ada untungnya bagi kita untuk berteman. Sementara yang kita hindari adalah yang tidak ada untungnya atau membuat hidup kita jadi sulit, yang membuat kita tidak jadi nyaman

Bagaimana dengan persahabatan antara orang-orang percaya? Seperti apa yang Allah inginkan? Perbedaan utama apa yang seharusnya terlihat dan kita upayakan? Sahabat sesama orang Kristiani tidak menjamin tidak akan ada konflik. Apa tujuan persahabatan Kristiani? Ingat bahwa harmonis belum tentu benar. Kerukunan tidak menjamin ada kebenaran. Tapi bisa saja karena kita berkompromi akan kebenaran dan tidak mau mengingatkan apa yang salah. Sementara persahabatan Kristiani bertujuan untuk menjadi serupa dengan Kristus di mana perjalanan tidak mudah. Kita butuh teman seperjuangan yang saling mengingatkan ketika kita melenceng dan yang kuat menanggung yang lemah.

Berbeda dengan persahabatan non-Kristen yang mungkin lebih seperti investasi, persahabatan Kristen memikirkan kepentingan orang lain, siap merugi, seperti investasi bodoh dan tidak punya pembukuan yang baik. Yang berkelebihan perlu menanggung yang lemah. Allah dalam kedaulatan-Nya menciptakan kita berbeda. Ada yang lebih mudah mencari uang. Ada yang lebih mudah sakit. Tidak selalu orang yang rajin jadi kaya. Bisa saja orang yang miskin sesungguhnya lebih rajin dan setia dari pada orang kaya. Dari pada berdebat mengapa itu terjadi, Allah berkata engkau yang kuat, tanggunglah yang lemah.

Tema hari ini itu bukan mencari sahabat tapi menjadi sahabat. Tanggunglah, bagikanlah bagi yang membutuhkan. Marilah kita saling menasihati (ayat 14). Fellowship artinya fellow in one ship. Kita berguncang bersama, menikmati keindahan bersama, karam bersama. Bisa jadi tidak nyaman ketika kita dinasihati tetapi ok sebab tahu itu karena kasih dan membawa kita ke arah yang benar. Mungkin sedikit keras, tetapi jika kita melakukannya karena kita mengasihi, itu menjadi berbeda.

Mungkin kita sulit mengasihi semua orang. Tuhan Yesus lebih sering bertemu dengan beberapa orang. Ada lingkaran-lingkaran wajar yang kita masukkan dalam kehidupan kita. Setiap dari kita punya lingkaran luar apapun agamanya apapun suku nya. Tetapi ketika kita masuk persahabatan tertentu, itu lebih personal. Ada inner circle. Apakah kita punya inner circle? Misalnya jika ada suami isteri yang sama-sama Kristen tapi bergumul untuk bercerai. Apakah ada sahabat yang tidak judging dengan berkata “Masakan orang Kristen bercerai” melainkan mengajak untuk berdoa? Apakah ada sahabat yang mengerti kejatuhan kita dan inner circle yang membuat kita kokoh? Lupakan followers kita. Pikirkan 2-3 orang yang kita komit untuk seminggu sekali update pergumulan kita dan berbagi pokok doa yang tidak sekadar basa-basi. Siapa yang kita beri hak untuk menanyakan kepada kita? Temukan sahabat, jadilah sahabat.

Tags:

Earlier: Same day: Later:
« Arti Sahabat None Memilih Sahabat Sejati »
ERROR: The IP key is no longer supported. Please use your access key, the testing key 'TEST'
Powered by Sermon Browser