Kotbah

Memilih Sahabat Sejati (1 Corinthians 15:33, Ephesians 5:7)

Pdt Budianto Lim, November 18, 2018
Part of the series, preached at a Sunday Morning service

Terkadang seorang sahabat harus kita lepaskan ketika sahabat tersebut membuat kita jatuh. Oleh karena itu, kita memerlukan hikmat dalam memilih sahabat. Di dalam 1 Korintus 15: 33 tertulis: “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Dan di Efesus 5: 7 tertulis: “Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.” Kedua ayat rasul Paulus ini memiliki esensi makna yang mirip sekali walaupun konteks hidup jemaat yang berbeda. Konteks di Korintus lebih teologis karena ayat ini berada di tengah-tengah pasal yang berbicara mengenai kebangkitan tubuh. Konteks di kota Efesus lebih praktis, mengajarkan kita untuk menghidupi injil melalui kata-kata dan perbuatan.

Apakah ada dari kita yang mengikuti kursus memilih sahabat? Apakah ada orang tua yang mengajari anaknya mengenai pertemanan secara konsisten? Bagaimana dengan sekolah? Sedikit sekali yang melakukan hal-hal tersebut. Di dunia yang digital, relasi kita mungkin lebih superficial. Social studies menyatakan manusia merasa disconnected atau bahkan lonely. Dr Dean Ornish menyatakan bahwa lack of true friendship leads to premature death.

Di 1 Korintus 15 yang mengajari tentang kebangkitan Kristus, kita dan tubuh. Lalu kenapa ada ayat mengenai pergaulan buruk merusak karakter yang baik. Pergaulan buruk bukan berarti kita tidak bersosialisasi dengan teman-teman non-Kristiani. Pergaulan buruk diibaratkan sebagai mengikuti kelompok yang jahat seperti gang. Yaitu berada dalam suatu komunitas yang sering bertemu, interaksi untuk hal yang salah dan menggoncangkan iman.

Jemaat Korintus saat itu terdapat orang-orang yang tidak percaya terhadap kebangkitan tubuh dan percaya bahwa eksistensi setelah kematian ialah tiada. Tetapi bukan berarti bahwa Paulus mendorong jemaat Korintus untuk putus hubungan dengan orang-orang tersebut. Melainkan hanya tidak menambah positivity, consistency dan vulnerability dengan mereka. Menurut Shasta Nelson, kita tidak kekurangan teman, akan tetapi tidak mau dan mampu membangun relasi menuju friendtimacy dimana kita memiliki keintiman untuk connect. Hal tersebut memerlukan quality time secara konsisten.

Injil adalah kabar baik karena ada kebangkitan Kristus. Oleh karena itu orang yang tidak percaya kebangkitan adalah orang yang tidak percaya injil. Sebenarnya kebangkitan tubuh pun sebenarnya sudah kita rasakan melalui baptisan.

Firman Tuhan mengingatkan kita untuk meningkatkan konsistensi dan vulnerability. Semoga GPBB bisa menjadi komunitas yang bisa vulnerable terhadap satu sama lain dan bisa menjadi sahabat rohani. Relasi yang harus diintersifkan adalah relasi dimana kita melihat diri kita yang bobrok dan lari mengejar Tuhan Bersama.

Di Efesus 5:1-7 ada pola berulang di dalam nasihat Paulus, di dalam rentetan pola tersebut terdapat poros yaitu ucapan syukur. Jangan kita menjadi orang yang terus sinis, tetapi berucap syukurlah

Tags:

Earlier: Same day: Later:
« Menjadi Sahabat None Yesus Sahabat Sejati »
ERROR: The IP key is no longer supported. Please use your access key, the testing key 'TEST'ERROR: The IP key is no longer supported. Please use your access key, the testing key 'TEST'
Powered by Sermon Browser