Kotbah

The Way of Wisdom (Matthew 2:13-19)

GI Yudi Jatmiko, December 16, 2018
Part of the Adven2018 series, preached at a Sunday Morning service

Dalam cabang ilmu yang mempelajari berbagai agama, ada konsep tentang evolusi agama. Dalam konsep ini, dipaparkan bahwa agama agama mengalami perubahan seiring dengan berjalannya waktu. Di saat manusia masih primitive, agama yang dianut adalah politeisme (banyak Tuhan). Di saat manusia mulai berkembang, agama yang dianut adalah monoteisme (satu Tuhan). Dan di saat manusia berada di puncak pertumbuhannya dengan tingkat kebijaksanaan yang tertinggi, ateisme (tidak ada Tuhan) jadi banyak yang menganut. Apakah konsep ini benar? Apabila ada seorang anak yang tidak mengakui keberadaan orang tuanya setelah ia diasuh dan dibesarkan sampai ia bisa mandiri, pasti lah hati orang tua anak itu akan sangat berduka. Demikian jugalah hati Tuhan di saat ada manusia yang bisa melakukan segalanya dan punya kehikmatan yang tinggi tapi tidak mengakui adanya Tuhan.

Jadi apakah hikmat yang benar? Kristus mengembalikan pengenalan manusia tentang Allah menjadi benar:
1. Di dalam dunia tidak hanya ada manusia, tapi juga ada Allah yang wajib disembah.
2. Manusia terpisah dari Allah karena pemberontakannya, tapi Kristus menjadi jalan supaya manusia bisa kembali bersama Allah.

Korelasi hikmat yang benar ini dengan perikop bacaan kita adalah:
1. Hikmat yang benar diwujudkan dari relasi yang dekat dengan Tuhan. Di zaman Yusuf, orang Israel sudah tidak mendengar hal hal yang Rohani selama empat ratus tahun. Tapi Yusuf tetap dapat mengerti kehendak Tuhan karena kedekatan relasinya dengan Tuhan.
2. Hikmat juga diwujudkan dalam ketaatan terhadap perintah Tuhan. Ketaatan Yusuf ditandai dengan 3 kata kerja: Bangunlah, Ambillah, Pergilah. Yusuf melakukan semuanya itu tanpa menunda-nunda. Ketaatan bukanlah suatu hal yang mudah. Tapi kita bisa menjadi taat di saat ketaatan kita berdasarkan pada kasih.

Hikmat yang salah bisa membawa dampak yang sangat mengerikan. Herodes memiliki kekuasaan dan hikmat manusia yang besar lewat tahta dan segala penasihatnya. Namun dia tidak mengindahkan kehendak Tuhan dan membawa kematian dan kesedihan kepada banyak orang lewat tindakannya.

Hikmat yang benar memberikan buah yang memberkati pemiliknya. Dalam konteks Yusuf dan Maria ialah pengalaman rohani menjadi bagian dari rencana keselamatan Allah bagi umat manusia. Dalam konteks kehidupan kita, penyertaan Tuhan yang tiada putus-putusnya tersedia bagi kita yang berjalan dalam hikmat Tuhan.

Bagaimana dengan kita sebagai anak Tuhan ataupun sebagai orang tua? Kita dapat menyediakan segala kebutuhan materi dan pendidikan kepada diri kita atau anak kita. Tapi dapatkah kita memperlengkapi diri kita atau anak kita dengan pengalaman rohani yang membawa hikmat yang benar?

Tags:

Earlier: Same day: Later:
« The Perished Way (Kelahiran Yesus menyelamatkan manusia dari kebinasaan) None My Own Way »
ERROR: The IP key is no longer supported. Please use your access key, the testing key 'TEST'
Powered by Sermon Browser