Kotbah

My Own Way (Isaiah 14:12)

Pr. Anthon SimangunsongPr. Anthon Simangunsong, December 23, 2018
Part of the Advent 2018 series, preached at a Sunday Morning service

Survey megachurch di USA menyimpulkan bahwa kemajuan negara tidak membuat suatu negara itu lebih dekat kepada Tuhan. Konteks tersebut dialami juga oleh nabi Yesaya. Pada jaman nabi Yesaya, pemimpin bangsa Israel ialah raja Uzia. Pada akhir hidup raja Uzia, Israel berkembang sangat pesat, namun, kemajuan tersebut tidak membuat mereka dekat kepada Tuhan dan malah menjadi jauh dari Tuhan. Bahkan pelayanan Yesaya sebagai nabi dapat dikatakan gagal karena bangsa Israel tidak menjadi bangsa yang semakin dekat dengan Tuhan, tetapi bangsa yang semakin jauh dari Tuhan sampai kemudian dihancurkan-Nya.

Di dalam teks Yesaya 53:6, manusia diibaratkan sebagai domba yang mencari jalannya sendiri. Antara manusia dan domba terdapat dua kesamaan, yaitu pertama adalah sama-sama memiliki pemikiran yang single minded. Domba dan manusia sering tidak menyadari konsekuensi dari tindakan yang mereka lakukan. Yang kedua adalah sama-sama berlari ketika ketakutan dan menjadi tersesat. Bahkan, ketersesatan ini dapat membawa kepada ketersesatan yang kekal/selamanya. Manusia semakin terperosok ke dalam dosa yang terus menerus dihidupi.

Namun manusia juga terus menerus untuk dekat dengan Tuhan, namun menggunakan jalan-jalan yang bersesuaian dengan keinginannya. Dalam hal-hal keseharian yang kita lakukan bukan melakukan kehendak Tuhan, tetapi ingin kehendak kita disetujui oleh Tuhan. Seperti yang dituliskan dalam Amsal 14:12, manusia menyangka jalan yang diambil/dipilihnya sudah baik, tapi ternyata jalan tersebut berujung kepada kematian.

Terdapat tiga kesalahan yang biasa kita lakukan. Pertama, tidak melibatkan Tuhan dalam rencana dan jalan hidup kita. Baiklah kita bertanya kepada Tuhan bagaimana harusnya hidup kita berjalan dan Tuhan yang memimpin hidup kita. Kita tidak mempunyai kemampuan untuk memimpin hidup kita karena kita tidak tahu masa depan.

Hal kedua adalah kita seringkali bergantung kepada logika kita. Tuhan memiliki jalan dan pemikiran yang lebih tinggi dari pemikiran kita. Abraham dijanjikan menjadi bangsa yang besar pada umur 75 tahun, sesuatu yang tidak wajar bagi manusia. Sama seperti Musa yang dipanggil pada saat sudah berumur 80 tahun dan saat Tuhan menyuruh bangsa Israel mengitari Yerikho selama 7 hari.

Ketiga adalah we hear what we want to hear. Kita hanya mau mendengar apa yang mau kita dengar. Surat Paulus terhadap Timotius dalam 2 Tim 4:3, akan terjadi dimana orang tidak akan tertarik akan pengajaran benar. Kita pun sering seperti itu. Keinginan-keinginan kita berada di atas kebenaran Tuhan. Seringkali kebenaran menyakitkan atau tidak enak didengar. Hal ini akan terjadi di zaman-zaman akhir. Kita harus melawan hal ini dan hidup berdasarkan firman Tuhan.

Walaupun tidak mudah berjalan bersama Tuhan, tetapi kita akan bahagia bersama-nya. Ketika kita menggantungkan hidup kita di dalam Tuhan, Tuhan akan menyertai dan menurunkan berkatNya kepada kita.

Put God first, jadikan Tuhan prioritas di dalam hidup kita. Follow his teaching. Kita akan mendapatkan damai ketika kita melibatkan dan mengikuti Tuhan.

Tags:

Earlier: Same day: Later:
« The Way of Wisdom None Leaving The Old Way; Starting the New Way »
ERROR: The IP key is no longer supported. Please use your access key, the testing key 'TEST'
Powered by Sermon Browser