Kotbah

Leaving The Old Way; Starting the New Way (Ephesians 4:17-24)

Pdt. Joseph TheoPdt. Joseph Theo, December 30, 2018
Part of the Advent 2018 series, preached at a Sunday Morning service

Makna manusia baru menurut Rasul Paulus dalam perikop ini dapat dirangkum menjadi 3 poin berikut:

1. Meninggalkan cara hidup yang lama dan memulai cara hidup yang baru
Pertobatan adalah meninggalkan kebiasaan lama yang merusak dan memulai cara hidup yang baru. Ini lebih dari sekedar memulai kegiatan baru saja! Bertobat artinya mengubah pikiran, sifat, karakter dan konsep pengenalan akan Kristus. Pusat spiritualitas kita adalah Kristus sebagai guru agung karakter, Tuhan dan juruselamat pribadi, bukan ritual-ritual. Saat teduh adalah kesempatan kontemplatif untuk melihat dan merenungkan ke dalam. Inti dari Efesus 4 ini adalah perubahan yang dimulai dari dalam, dari pikiran dan akal budi, bukan dipaksakan dari luar.

2. Berubah dari dalam: Dimulai dari hati dan pikiran.
Tuhan sering memakai cara-cara yang kita tidak suka untuk mengubah hidup kita, seperti Musa, Paulus, Yunus dan lain-lain. Kata “tanggalkan dan tinggalkan” menunjukkan sikap kerelaan dari dalam, supaya kita menjadi orang yang tulus. Memaksakan perubahan dari luar akan menghasilkan kemunafikan. Jangan-jangan kita hanya membangun “kesibukan rohani” dengan pelayanan dan aktivitas kita, tanpa membangun karakter rohani. Apakah kegiatan-kegiatan kita sudah membangun karakter manusia rohani?

3. Selalu introspeksi diri, bukan menghakimi orang lain.
“Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku” (Mazmur 26:2). Mari kita tidak selalu membuka mata dan melihat keluar, tapi juga menutup mata dan membuka mata batin kita. Apakah saya sudah hidup dalam iman? Apakah saya sudah berjuang hidup dalam kebenaran? Apakah saya sudah melayani dengan baik? Refleksi ini bukan hanya akhir tahun, tetapi setiap hari. Di sinilah kita membangun intimasi dengan Tuhan dan akan memperbaiki juga sikap dan relasi kita terhadap orang lain. Salib ada bagian vertical dan horizontal - relasi kita dengan Allah dicerminkan oleh relasi kita dengan manusia lain. Kita tidak bisa berdamai dengan Allah tanpa berdamai dengan sesama kita. Marilah kita introspeksi - apakah kita sudah menciptakan keseimbangan antara pelayanan di gereja dengan hubungan kita dengan keluarga dan sesama?

Tags:

Earlier: Same day: Later:
« My Own Way None Thesis: Kebenaran, Kesetiaan dan Iman »
ERROR: The IP key is no longer supported. Please use your access key, the testing key 'TEST'
Powered by Sermon Browser