Kotbah

Hukum Taurat dan Sunat (Romans 2:17-29)

Pdt. Petrus Budi SetyawanPdt. Petrus Budi Setyawan, January 27, 2019
Part of the series, preached at a Sunday Morning service

Bangsa Yahudi bisa berbangga atas keyahudiannya, karena mereka adalah bangsa yang memiliki hukum Taurat, dan mereka bisa bermegah dalam Allah. Melalui hukum Taurat, mereka mengetahui apa yang Allah kehendaki (sumber kebenaran dan kepandaian). Bangsa Yahudi diharapkan menjadi bangsa yang taat, yang mengajarkan dan membawa orang-orang kepada Allah. Namun faktanya seperti tertulis di ayat 21-24, mereka ditegur dengan sangat keras sebagai penghina-penghina dan pelanggar hukum Allah, akibat nya mereka menjadi celaan dan memberikan kesaksian yang buruk.

Di ayat 25, dibahas tentang sunat. Status Yahudi dicirikan dengan adanya sunat. Sunat sebagai tanda masuk ke komunitas Yahudi, dan lebih dalam lagi, sunat adalah perintah dan materai dari Allah untuk umat pilihan. Pada dasarnya enter melalui sunat dan stay dengan melakukan hukum Taurat. Bersunat dan memiliki hukum Taurat bukanlah jaminan mereka diselamatkan, ingatlah juga status kekristenan kita bukan jaminan kita diselamatkan. Kenapa? Karena keselamatan itu karena Iman, sola fide, dan sola gracia.

Menurut ayat 26, orang-orang non-Yahudi diberikan hati nurani bukan hukum taurat. Namun jika orang yang berbuat baik dengan hati nurani akan diselamatkan, salib menjadi tidak penting. Hanya orang yang beriman yang diselamatkan, membuktikan iman dengan melakukan hal-hal yang berkenan kepada Allah, tapi adakah orang yang hidupnya berkenan kepada Allah. Manusia tidak akan bisa mencapai standar Allah. Hukum Taurat diberikan supaya makin jelas ketidaksanggupan manusia, dengan demikan anugerah makin disyukuri karena betapa tidak berdayanya kita.

Di ayat 28-29, permasalah utama bukanlah sunat lahiriah, namun dari dulu yang terpenting adalah sunat hati (Ulangan 30:6). Bila hati yang belum bersunat, betapapun gigihnya kita takkan berkenan kepada Allah. Sunat dan hukum Taurat mendekatkan diri kepada sunat hati. Masih perlukah orang Kristen disunat? Kesimpulannya percaya kepada Kristus cukup, tidak perlu disunat. Sunat tidak harus tapi tidak dilarang selama bukan alasan teologi. Dalam teologi reform, baptisan adalah pengganti sunat, oleh karena itu kita perlu membaptiskan anak yang di dalam iman orang tuanya dibawa ke hadapan Tuhan. Materai itu adalah baptis. Anak yang dibaptis masuk dalam kumpulan orang percaya dan didekatkan kepada anugerah. Baptisan adalah tanda tapi belum tentu diselamatkan. Orang bisa saja baptis tapi tidak mengalami sunat hati dan tidak mengalami perubahan fundamental.

Di Roma 2, seluruh manusia berbuat baik diterima Tuhan, namun tidak ada yang akan sanggup seperti itu, karena itulah kita perlu anugerah, hati kita disunat artinya memungkinkan menaati hukum Taurat.

Kepada kita yang mengklaim mengenal Tuhan, apakah hidup kita sudah diubah (hati kita dibaptis), dimampukan membaca Alkitab, menaatinya, dan menjadi saksi bagi orang lain? Bagaimana hidup kita selama ini? Kalau kita punya Alkitab, kita dituntut lebih. Menjadi saksi sehingga saat orang melihat kita, orang lain tertarik mendengar pesan Tuhan. Mari kita hidup berbanding lurus dengan apa yang kita klaim, karena kita sudah menerima Allah

Tags:

Earlier: Same day: Later:
« Murka Allah Atas Pemberontakan, Penyembahan Berhala dan Penyimpangan Manusia None Ketidakbenaran Manusia di Hadapan Allah »
ERROR: The IP key is no longer supported. Please use your access key, the testing key 'TEST'
Powered by Sermon Browser