Posted by Ingrid Tanudjaya

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.” (Yak 1:19)

Setiap teknologi mengandung manfaat maupun mudharatnya. Media sosial, misalnya, memungkinkan keterbukaan informasi dimana informasi dapat disebar dengan mudah dan cepat. Di sisi lain, misinformasi/disinformasi pun dapat menjadi viral dengan cepat. Berbagai situs-situs berita alternatif maupun laman-laman Facebook berjamuran, masing-masing dengan ideologi redaksionalnya tersendiri — terutama tentang politik. Ada yang pro politisi tertentu, ada yang anti. Kesamaannya adalah, masing-masing situs maupun laman ini lebih didorong oleh ideologi ketimbang kebenaran, oleh jumlah likes yang mereka dapatkan ketimbang akurasi dari informasi yang mereka sebarkan. Karena itu, tantangannya bagi kita semua sekarang adalah bagaimana menyikapi arus informasi yang bersliweran dimana-mana seperti sekarang ini.

Surat Yakobus memiliki nasihat sederhana bagi kita semua. Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, lambat untuk berkata-kata, dan lambat untuk marah (Yak 1:19). Dengan kata lain, kuncinya adalah pengendalian diri. Dengan menyadari bahwa kita sekarang dapat menyebarkan informasi dengan mudah dan cepat, kita justru harus semakin waspada terhadap apa yang kita sebarkan. Jika kita ingin berbagi dari salah satu situs alternatif, mari kita periksa apakah informasi yang bersangkutan juga dimuat di situs berita arus utama. Tentunya, apa yang dimuat di situs-situs berita arus utama bisa keliru juga, namun perbedaan utamanya adalah proses pemuatan berita di situs-situs ini mesti melalui proses redaksional yang lebih panjang dan ketat ketimbang di situs-situs alternatif, ada akuntabilitas yang lebih tinggi, dan karena itu isi beritanya biasanya lebih akurat. Sedapat mungkin, carilah terlebih dahulu apakah sumber informasi yang bersangkutan dapat dipercaya atau tidak. Jika kita tidak terlalu yakin dengan kebenaran informasi yang ingin kita bagikan, maka lebih baik kita tidak bagikan informasi tersebut (bukan sebaliknya: membagikan informasi dulu baru bertanya apakah informasi tersebut benar atau salah.)

Selain itu, hindarilah berbagi informasi dari situs-situs alternatif yang sebenarnya hanya bertujuan untuk mencari untung lewat iklan. Situs-situs/laman-laman ini sebenarnya dapat mudah dikenali, misalnya dari nama atau tampilan situsnya yang tidak profesional, atau judul artikel-artikelnya yang cenderung clickbait, yang berfungsi hanya untuk memancing orang untuk masuk ke situs tersebut. Hindarilah berbagi artikel yang bersifat gosip ataupun spekulasi, betapapun artikel tersebut mengamini apa yang kita rasakan. Di era yang saturated dengan informasi ini, kita dipanggil untuk menjadi warga yang bertanggung jawab dengan informasi yang kita miliki. Yang terutama adalah untuk memberitakan kebenaran, bukan untuk memuaskan perasaan kita mengenai realita tertentu, betapapun kebenaran tersebut menjadikan kita tidak nyaman mengenai apa yang kita yakini selama ini. (SH)