Posted by Ingrid Tanudjaya

Baru beberapa hari yang lalu, saya dan isteri kembali ke Singapura dari Malang. Ada banyak pengalaman yang berkesan dan ini adalah salah satu di antaranya. Masih segar dalam ingatan saya bagaimana seorang ibu begitu kekeuh (baca: bersikeras) supaya kami memberi waktu untuk bertemu dengan papa dan mamanya. Sang ibu adalah anggota dari jemaat yang pernah kami layani di Malang. Dengan senang hati kami meluangkan waktu.

Sebenarnya, kami sudah pernah bertemu dengan sang papa sebelumnya ketika kunjungan doa di salah satu rumah sakit di Singapura. Waktu itu beliau sedang terbaring di ranjang rumah sakit dalam keadaan lemah dan akan menjalani operasi jantung. Keluarga besar di Malang sudah berpesan kepada ibu ini agar papanya dicheck up saja, tetapi jangan operasi jantung mengingat usia yang sudah lanjut dan resikonya sangat tinggi. Tetapi dokter mengatakan penyumbatan sudah sampai 98% pada beberapa area vital jantung. Dokter menyarankan untuk segera ambil tindakan operasi. Sebenarnya, baik operasi atau pun tidak, keduanya beresiko tinggi. Tetapi ibu ini mantap agar tindakan operasi segera dilakukan. Saya terkejut ketika tahu bahwa alasannya bukan sekedar supaya papanya kembali sehat. Ibu ini berharap sang papa mendapat kesempatan lebih lama untuk hidup karena beliau belum mengenal Tuhan Yesus. Maka segera saya meminta izin kepada sang papa untuk menceritakan tentang Tuhan Yesus dan memimpinnya dalam doa pengakuan dosa. Dengan anugerah Tuhan, sang papa membuka hatinya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi sebelum beliau menjalani operasi jantung.

Enam bulan berselang setelah peristiwa di Singapura itu. Siang itu, di Malang, kami menjemput sang papa di rumah ibu ini untuk makan siang bersama. Ketika saya turun dari mobil untuk menyapa sang papa, betapa terkejut saya melihat wajahnya. Cerah dengan senyum begitu sehat dan penuh sukacita. Hati saya pun penuh rasa syukur. Selama perjalanan dan makan, kami banyak bercerita tentang iman dan pertumbuhan dalam Kristus. Yang membuat saya kagum ialah semangat ibu ini bersaksi tentang Yesus kepada papa dan mamanya yang sudah lanjut usia. Kasihnya terlihat dari perhatiannya yang besar terhadap kesehatan papa, baik secara fisik maupun jiwa. Ini mengingatkan saya akan pesan dari Tuhan Yesus dalam Yohanes 15:26-27: “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu semula bersama-sama dengan Aku.” Pada minggu Pentakosta ini kita diingatkan bahwa Roh Kudus telah diberikan kepada gereja dengan kuasa-Nya untuk bersaksi tentang dan bagi Kristus. Tetapi perintah itu tidak berhenti di sana. Tuhan Yesus berpesan: kamu juga harus bersaksi. Itulah yang telah dilakukan oleh sang ibu dalam kisah di atas tadi. Dengan segala keterbatasan dan kesederhanaannya, ia bersaksi tentang Kristus kepada sang papa. Tuhan memberkati kesaksiannya itu. Bagaimana dengan Anda? Sudahkan Anda bersaksi kepada keluarga tentang Kristus? (yj).