Spiritualitas Kristen dalam Praktek Keramahan
by GPBB ·
Spiritualitas Kristen sering kali dipahami sebagai sesuatu yang batiniah: doa pribadi, saat teduh, puasa, atau perenungan firman Tuhan. Semua itu penting dan tidak tergantikan. Namun Alkitab secara konsisten menunjukkan bahwa spiritualitas sejati tidak pernah berhenti di ruang batin. Ia selalu mengalir keluar, mengambil bentuk yang konkret dalam relasi dengan sesama. Ibrani 13:2 menegaskan kebenaran ini dengan sangat sederhana namun mendalam: iman yang hidup diekspresikan melalui keramahtamahan kepada orang asing.
Ayat ini muncul di bagian penutup surat Ibrani, di mana penulis memberikan nasihat-nasihat praktis tentang kehidupan Kristen. Setelah pembahasan teologis yang mendalam tentang Kristus sebagai Imam Besar Agung, penulis tidak mengakhiri dengan spekulasi rohani, melainkan dengan panggilan untuk hidup yang nyata: mengasihi, melayani, dan membuka diri bagi orang lain. Spiritualitas Kristen, menurut Kitab Suci, selalu bersifat inkarnasional—iman yang mengambil rupa dalam tindakan sehari-hari.
Keramahtamahan sebagai Disiplin Rohani
Ibrani 13:2 tidak sekadar mendorong sikap baik hati, tetapi memanggil umat percaya untuk menjadikan keramahtamahan sebagai praktik spiritual yang disengaja. Kata “janganlah kamu lalai” menunjukkan bahwa kecenderungan manusia justru adalah mengabaikan atau menunda sikap ini. Keramahtamahan membutuhkan perhatian, pengorbanan, dan kesediaan untuk terganggu dari kenyamanan pribadi.
Dalam konteks Alkitab, “orang asing” bukan hanya tamu yang dikenal, tetapi mereka yang berada di luar lingkaran aman kita: pendatang, orang yang berbeda latar belakang budaya, status sosial, atau bahkan pandangan hidup. Menyambut orang asing berarti membuka ruang—baik ruang fisik, emosional, maupun sosial—bagi mereka yang tidak memiliki klaim atas hidup kita. Sebagai disiplin rohani, keramahtamahan membentuk hati kita. Ia melatih kita untuk tidak hidup berpusat pada diri sendiri, melainkan peka terhadap kehadiran dan kebutuhan orang lain. Dalam praktik ini, ego dipatahkan, ketakutan terhadap “yang berbeda” diproses, dan kasih Kristus dipraktikkan secara nyata.
Menariknya, penulis Ibrani mengaitkan keramahtamahan dengan pengalaman ilahi: “dengan tidak diketahuinya menjamu malaikat-malaikat.” Ini mengingatkan pembaca pada kisah Abraham (Kejadian 18), yang dalam kesederhanaan dan ketaatan menyambut tamu, ternyata sedang berjumpa dengan utusan Tuhan. Pesan teologisnya jelas: Allah sering hadir melalui perjumpaan biasa dengan manusia biasa. Spiritualitas Kristen tidak hanya ditemukan di altar doa, tetapi juga di meja makan, di ruang tamu, dan dalam percakapan sederhana.
Menjumpai Kristus dalam Wajah Orang Asing
Yesus sendiri mengidentikkan diri-Nya dengan orang-orang yang terpinggirkan. Dalam Matius 25, Ia berkata bahwa apa yang dilakukan kepada “yang paling hina” dilakukan kepada-Nya. Ibrani 13:2 sejalan dengan teologi ini: ketika kita membuka diri bagi orang asing, kita sedang membuka diri bagi kehadiran Allah yang tersembunyi.
Dalam dunia modern, termasuk di konteks perkotaan seperti Singapura atau kota-kota besar lainnya, orang dapat hidup sangat dekat secara fisik namun sangat jauh secara relasional. Kesibukan, tuntutan kerja, dan kehidupan digital seringkali membuat kita tertutup terhadap sesama. Spiritualitas Kristen menantang pola hidup ini dengan mengundang kita untuk memperlambat langkah dan hadir bagi orang lain.
Keramahtamahan bukan berarti kita harus memiliki banyak atau menjadi sempurna. Justru sering kali, keramahan lahir dari keterbatasan: waktu yang singkat, rumah yang sederhana, atau sumber daya yang terbatas. Yang terpenting adalah hati yang bersedia. Dalam keterbatasan itulah Kristus sering kali menyatakan diri-Nya.
Menjumpai Kristus dalam wajah orang asing juga berarti kita belajar melihat dengan mata iman. Orang asing tidak lagi dilihat sebagai ancaman, beban, atau gangguan, melainkan sebagai anugerah dan kesempatan untuk mengalami karya Allah. Spiritualitas Kristen yang dewasa adalah spiritualitas yang mampu mengenali kehadiran Tuhan di tempat-tempat yang tidak terduga.
Dalam praktik gerejawi, panggilan ini relevan bagi komunitas iman. Gereja dipanggil bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi rumah yang ramah—bagi pendatang baru, mereka yang terluka, yang berbeda, dan yang mencari. Keramahtamahan bukan program tambahan, melainkan ekspresi dari Injil itu sendiri (YJ).
Untuk perenungan pribadi:
- Siapakah “orang asing” dalam hidup saya saat ini, dan apa yang menghalangi saya untuk membuka diri kepada mereka?
- Dalam rutinitas dan kesibukan saya, bagaimana saya dapat mempraktikkan keramahtamahan sebagai disiplin rohani yang nyata?
- Pernahkah saya menyadari kehadiran Tuhan melalui perjumpaan sederhana dengan orang lain? Apa yang Tuhan ajarkan melalui pengalaman tersebut?

