Berubah, Bertekun dan Berbuah
by GPBB ·
Roma 5:3-5, “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.
Di negeri empat musim, olah raga diatas es adalah salah satu ajang pertandingan prestisius setaraf dengan olimpiade. Banyak kisah para atlet Ice Skating yang memberi pelajaran berharga kepada kita bahwa hidup ini harus dilakoni dengan gigih. Yao Bin (lihat: Wikipedia) atlet Skating Cina, adalah salah satu contohnya. Pada tahun 1970, ia mulai berlatih untuk bisa ikut kejuaraan dunia skating. Kurangnya fasilitas, informasi dan tenaga pelatih terampil di negaranya, membuatnya harus belajar mandiri. Waktu berangkat keluar negeri untuk bertanding di tahun 1980, 1981 dan 1982, modalnya cuma bonek (bondo nekat). Dia bertanding di kejuaraan dunia tanpa ditemani pelatih sama sekali. Semua penonton tertawa geli melihat gaya dan penampilan skatingnya yang tidak biasa. Yao Bin hanya bisa merebut posisi ke 15 dari total peserta sebanyak 15. Kenyataan ini sama sekali tidak membuat Yao Bin patah semangat. Ia malah mendedikasikan diri sebagai pelatih skating dan bercita-cita memunculkan Cina dalam pentas olympiade musim dingin. Setelah 30 tahun bergelut dalam dunia skating, di tahun 2006, Cina berhasil menempatkan 2 pasang pemain, Shen Xue and Zhao Hong Bo dan berhasil merebut medali perak dan perunggu. Bagaimana prestasi gemilang ini diukir? Ternyata prosesnya sungguh berliku dan penuh tantangan. Pada tahun 2004, Zhao cedera berat karena otot achilesnya (tumit) terbelah dua. Banyak orang beranggapan, ini adalah akhir dari karier-nya. Namun Zhao tetap berlatih dengan tekun, dengan sepatu skating yang didesign khusus, dia tetap bisa tampil prima dan sukses.
Murid Yao Bin yang lain adalah Zhang Dan dan Zhang Hao. Pada kejuaraan di Torino, Itali, Zhang Dan melakukan kesalahan pada waktu melakukan salchow 4 putaran (gerakan badan berputar horizontal diudara setelah meloncat), ia mendarat bukan pada kakinya tapi pada dengkulnya. Dia terjatuh di es dengan kecepatan tinggi, meluncur dan terhempas ke pagar pembatas. Zhang Dan sangat kesakitan dan mesti dibopong untuk bisa keluar lapangan. Banyak yang mengira bahwa ini adalah nasib jelek bagi mereka. Namun, keuletan, keinginan untuk menang dan mental juara, membuat semua rasa sakit bisa dipinggirkan. Dengan dukungan penuh dari Yao Bin sebagai pelatih, Zhang Dan dan Zhang Hao melanjutkan skating selamat 4 menit berikutnya tanpa cacat. Semua penonton terkesima dan memberikan standing ovation (tepuk tangan dengan berdiri sebagai ekspresi penghargaan yang tinggi) diakhir pergelaran mereka. Medali Perak adalah buah dari jerih payah mereka dalam melawan rasa sakit, malu dan latihan selama bertahun-tahun. Juara pertama adalah Totmiyanina dan Marinin dari Rusia. Mereka juga tidak sepi dari cedera. Marinin pernah mengalami kecelakaan dalam sebuah kompetisi dimana dia terjatuh, kepalanya terbentur lantai es dan pingsan. Perlu beberapa hari untuk bisa menyadarkan dia kembali dan ironisnya, dia kehilangan sebagian besar kemampuan skatingnya. Dengan semangat juara, Marinin belajar skating dari nol lagi. Satu persatu gerakan skating dikuasainya dan tahun 2006 adalah merupakan salah satu puncak prestasinya yaitu sebagai juara olimpiade musim dingin. Ketiga pasang juara diatas, tidak meraih sukses dengan gampang. Melalui proses belajar yang lama, cedera, namun bangkit lagi untuk maju terus meraih yang terbaik. Tidak ada ketekunan yang akan berbuah kekecewaan, begitu kata Roma 5:3-5. (J.Th)
Photo by Kelli McClintock on Unsplash

