KEPUTUSAN ETIS DALAM BERBUAT BAIK
by ADMIN ·
Berbuat baik kepada orang asing di negara maju seperti Singapura tidaklah mudah. Beberapa cerita yang saya dapat, malah bisa menjadi bumerang bagi orang yang menolongnya. Lalu bagaimana sikap kita sebagai orang percaya? Di sinilah sikap etis diperlukan.
Etika menurut Encyclopaedia Britannica, adalah cabang ilmu yang membahas apa yang baik-buruk, benar-salah secara moral. Salah satu teori etika dasar adalah teori deontologi yang digagas Immanuel Kant. Deontologi berasal dari kata Yunani — deon (kewajiban) dan logos (ilmu).
Jadi, deontologi menilai benar atau salahnya suatu tindakan berdasar kewajiban atau prinsip moral universal, bukan karena mempertimbangkan konsekuensi negatif atau keuntungan yang dihasilkan. Misal: saat kita melihat orang jatuh, atau melihat dompet seseorang terjatuh, atau diminta uang oleh orang yang mengaku belum makan 3 hari, maka kewajiban moral kita adalah tolong dulu, walaupun hasil akhirnya mungkin tidak menguntungkan.
Tapi pertanyaannya, “Apakah semudah itu?” Kant berpendapat bahwa aturan moral harus tetap berlaku universal! Tapi kenyataannya, nilai dan kewajiban moral bisa berbeda antar budaya dan konteks. Di sinilah kita perlu hikmat dalam terang firman Tuhan.
Tuhan Yesus berkata, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati,” (Mat 10:16). Menurut Bibleworks, kata “cerdik” (Yunani: phronimos) arti dasarnya adalah intelligent, wise, prudent. Jadi di dalam bertindak cerdik, kita diminta memiliki kecerdasan, kebijaksanaan, dan kehati-hatian. Tiga hal ini penting untuk kita mengambil keputusan etis dalam setiap situasi. Situasi yang satu, kadang tidak bisa dipukul sama rata secara universal.
Pertanyaannya, apakah kita menjadi susah/berhenti saja berbuat baik? Tentu tidak! Rasul Paulus menasehati, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, ..selama masih ada kesempatan, marilah kita berbuat baik kepada semua orang..” (Gal 6:9-10). Artinya, kita tetap diminta memiliki standar moral kristiani yang tinggi.
Tetapi di sisi lain, kecerdikan tetap diperlukan dengan memperhatikan hukum yang ada. Pastikan kita kenal regulasi/hukum yang spesifik sebelum bertindak. Pilih cara menolong yang berdampak tapi bukan tindakan yang bisa dianggap melanggar. Hormati hak individu yang kita bantu —pastikan bantuan kita tidak merugikan hak orang lain secara hukum.
Suatu kali, Musa membela seorang Israel yang dipukuli oleh orang Mesir. Dia bertindak dalam batas tertentu. Tetapi tindakannya menyalahi hukum Mesir. Musa takut sekali dan melarikan diri (Kel 2:11–15). Dari sini kita belajar bahwa menolong orang lain harus mempertimbangkan konteks hukum yang berlaku. Kepedulian dan kepekaan itu penting, tapi di sisi yang lain kehati-hatian dan strategi jangan ditinggalkan.
Cerdiklah seperti ular dan tuluslah seperti merpati.
(Pdt. Kukuh Aji Irianda)

