Practicing Generosity
by GPBB ·
Ketika berbicara tentang kemurahan hati, seringkali yang terlintas di pikiran kita adalah: berapa banyak yang bisa saya berikan? atau apakah saya sudah cukup berlebih untuk memberi?
Kala itu jemaat di Yerusalem sedang dalam kesulitan besar dan kelaparan. Karena kondisi tersebut Rasul Paulus mendorong jemaat-jemaat lain untuk membantu dengan memberikan sumbangan untuk jemaat Yerusalem. Menariknya, dalam 2 Korintus 8, Paulus memberikan teladan dari jemaat di Makedonia. Meski mereka sedang dicobai dengan berat dan berada dalam kemiskinan yang dalam, mereka justru memberikan bantuan dengan sukacita yang meluap. Mereka tidak menunggu keadaan ideal dan tidak menunggu hidup mereka aman dulu. Tidak. Bahkan mereka memberi melampaui kemampuan mereka (8:2-3).
Apa rahasia kemurahan hati yang radikal ini? Rahasianya bukan pada jumlah uang yang mereka punya, melainkan pada satu hal mendasar, yakni mereka terlebih dahulu memberikan diri mereka kepada Allah. Dari penyerahan diri total kepada Allah inilah lahir kerelaan untuk memberi, bahkan di tengah kondisi yang tidak mendukung.
Melalui teladan jemaat di Makedonia, Paulus mengajak jemaat di Korintus – dan kita semua hari ini untuk melihat kemurahan hati dari sudut pandang yang berbeda dan memahami prinsip memberi yang benar. Dalam pasal 9 Paulus menggunakan analogi menabur dan menuai. Memberi bukanlah kehilangan, melainkan menabur. Seperti petani yang menabur benih dengan iman dan punya pengharapan kalau nanti akan panen. Demikian juga dengan memberi, kita percaya bahwa Allah sanggup mencukupi dan memelihara kehidupan kita.
Kita bersyukur gereja kita dapat mengambil bagian dalam mendukung korban banjir di Sumatera, baik melalui sumbangan dana maupun barang. Ibu-ibu Komisi Wanita pun telah mengumpulkan pakaian dan barang layak pakai untuk disalurkan. Semua ini adalah bukti nyata bagaimana kasih Kristus diwujudkan dalam tindakan.
Namun praktik kemurahan hati tidak berhenti pada momen atau program tertentu. Kita semua diajak untuk memberi dengan hati yang peka dalam kehidupan sehari-hari – menolong yang membutuhkan, berbagi dari apa yang kita miliki, dan membuka diri untuk menjadi saluran berkat bagi sekitar. Mari kita renungkan dan doakan, dalam minggu ini adakah satu tindakan kemurahan hati sederhana yang bisa saya lakukan bagi orang di sekitar saya? (CP)
Photo by Suryo Patriandito

