Makna Dalam Persekutuan
by GPBB ·
Kisah Para Rasul 2:42,46 - Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa … Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,…
Ayat-ayat di atas mengingatkan akan kebiasaan gereja, dimana saya beribadah ketika berada di Indonesia, yang mengadakan Persekutuan Wilayah (PW) di malam minggu, dimana ada sekitar 20-30 orang yang datang menghadiri. Saya ingat seringkali adanya jamuan makan malam yang cukup “wah” sebelum persekutuan dimulai. Ada satu ibu yang saya ingat cukup senang menjamu para tamu dalam PW, namun anaknya tidak terlalu suka apabila PW diadakan di rumahnya. Anaknya tidak suka berhubung lagu yang dinyanyikan dan Firman yang diberitakan ditujukan untuk orang dewasa. Lebih jauh lagi, akan ada banyak pekerjaan membersihkan rumah menanti setelah persekutuan selesai dan para tamu sudah meninggalkan rumah mereka dan tentunya si anak juga mendapatkan bagian untuk membersihkan. Mungkin ada dari kita yang dapat berempati dengan keengganan si anak untuk mengadakan PW di rumah apalagi karena keluarga ini juga tidak memperkerjakan pramuwisma. Si anak tidak mau direpotkan untuk kegiatan yang buat dia tidak bermakna.
Kehidupan jemaat mula-mula memberikan sebuah perenungan yang baik tentang hidup yang saling merepotkan saat mereka bertekun dalam pengajaran para rasul (ayat 42) dan bergiliran memecahkan roti dan makan bersama-sama di rumah-rumah yang berbeda (ayat 46). Mengapa mereka bersukacita di dalam melakukan hal tersebut? Dua ayat diatas menyebutkan tentang kesehatian mereka bertekun dalam pengajaran para rasul (Ayat 42) dan berada di rumah Tuhan (ayat 46). Mereka mau direpotkan karena adanya kesehatian di dalam membangun gaya hidup komunitas orang percaya yang mengikut Tuhan. Berdasarkan ayat ini, mungkinkah kalau begitu sikap kurang mau direpotkan disebabkan karena tidak adanya kesehatian untuk bertekun dalam pengajaran para rasul atau Firman Tuhan? Pertemuan menjadi bermakna karena pengajaran Firman menjadi pemersatu mereka yang berbagian di dalamnya.
Saya pikir hal ini seringkali terlihat dan dapat terus dibangun di GPBB, misalnya melalui pertemuan K2N di rumah-rumah jemaat. Pertanyaannya adalah apakah kita menemukan makna di dalam setiap pertemuan, mungkin seperti si ibu yang suka membuka rumahnya untuk PW, sehingga ada sukacita di dalam melakukan hal tersebut. Ataukah kita lebih merasa seperti si anak yang tidak menemukan makna di dalam pertemuan yang diadakan. (VL)

