Pertanyaan tentang Kemuliaan Tuhan dan Dosa Manusia
by ADMIN ·
Pertanyaan:
Mengapa Tuhan memilih jalan yang begitu ekstrem untuk menyatakan kemuliaan-Nya? Bukankah Ia bisa memakai cara lain selain menciptakan manusia (yang sebagian besar Ia ketahui tidak akan percaya dan akan dihukum kekal) untuk menyatakan kemuliaan-Nya? Bagaimana mungkin penyataan karakter dan kemuliaan-Nya sepadan dengan membiarkan sebagian besar ciptaan-Nya masuk ke neraka—hal ini tampak tidak selaras dengan karakter-Nya sebagai kasih yang sempurna.
Jawaban:
Sahabat terkasih,
Terima kasih telah mengajukan pertanyaan yang begitu jujur dan penting. Ini bukan semata-mata persoalan intelektual—ini sangat pribadi dan sangat emosional. Pertanyaan tentang kemuliaan Tuhan, penderitaan manusia, penghakiman kekal, dan kasih Tuhan menyentuh inti iman dan hati kita. Sangat wajar jika hal ini mengusikmu. Sesungguhnya, orang-orang Kristen sepanjang sejarah—termasuk banyak teolog dan pendeta yang setia—telah bergumul dengan ketegangan yang sama.
Sejak awal, penting untuk mengakui bahwa Kitab Suci sendiri memegang bersama-sama kebenaran-kebenaran yang terkadang sulit kita damaikan. Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan itu sempurna kudus dan sempurna mengasihi; bahwa Ia sepenuhnya adil dan tak terbatas belas kasih; bahwa Ia sungguh menghendaki manusia bertobat dan diselamatkan, namun juga bahwa manusia bertanggung jawab secara moral di hadapan-Nya. Kebenaran-kebenaran ini bukan kontradiksi, tetapi memang menciptakan ketegangan yang merendahkan hati kita. Sering kali dorongan pertama kita adalah segera menyelesaikan ketegangan itu, tetapi Alkitab justru kerap mengundang kita untuk duduk dengan sikap hormat di hadapan misteri.
Salah satu hal pertama yang perlu dipahami adalah apa yang dimaksud Kitab Suci ketika mengatakan bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu bagi kemuliaan-Nya. Bagi telinga modern, ini bisa terdengar egois, seolah-olah Tuhan mencari tepuk tangan. Namun secara alkitabiah, kemuliaan Tuhan bukanlah kesombongan ilahi—melainkan penyataan karakter-Nya yang sejati: kekudusan, keindahan, keadilan, belas kasihan, kebenaran, hikmat, dan kasih-Nya. Ketika Tuhan memuliakan diri-Nya, Ia sedang memperlihatkan apa yang paling indah dan paling nyata. Karena Tuhan sendiri adalah kebaikan tertinggi, tindakan paling mengasihi yang dapat Ia lakukan adalah menyatakan diri-Nya sepenuhnya. Jika Ia menunjuk kita kepada sesuatu yang kurang dari diri-Nya sendiri, Ia justru menahan dari kita apa yang terbaik.
Dan yang penting, ketika Kitab Suci berbicara tentang kemuliaan Tuhan, kemuliaan itu tidak dipisahkan dari belas kasih-Nya. Ketika Musa meminta untuk melihat kemuliaan Tuhan dalam Keluaran 33, Tuhan menjawab dengan menyatakan karakter-Nya: “TUHAN, TUHAN, Allah yang penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih setia dan kesetiaan” (Keluaran 34:6). Kemuliaan Tuhan mencakup belas kasih-Nya. Kasih-Nya tidak bertentangan dengan kemuliaan-Nya; kasih itu adalah bagian dari kemuliaan-Nya.
Pada saat yang sama, kita harus mengatakan dengan jelas bahwa Tuhan tidak menciptakan manusia untuk kebinasaan. Alkitab tidak pernah menggambarkan Tuhan sebagai Pribadi yang bersukacita dalam penghukuman. Melalui nabi Yehezkiel, Tuhan berkata, “Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan supaya orang fasik berbalik dari jalannya dan hidup” (Yehezkiel 33:11). Paulus menulis bahwa Tuhan “menghendaki supaya semua orang diselamatkan” (1 Timotius 2:4), dan Petrus mengingatkan kita bahwa Tuhan itu sabar, “karena Ia tidak menghendaki seorang pun binasa” (2 Petrus 3:9). Yesus sendiri menangisi Yerusalem. Tuhan yang dinyatakan dalam Kitab Suci bukanlah Tuhan yang dingin atau acuh tak acuh terhadap hilangnya manusia. Ia berduka atas hal itu.
Sebagian dari kesulitan dalam pembahasan ini adalah karena kita sering meremehkan keseriusan dosa. Dalam budaya kita, dosa sering direduksi menjadi “kesalahan” atau “ketidaksempurnaan,” tetapi Kitab Suci memandangnya jauh lebih serius. Dosa adalah pemberontakan terhadap Sang Pencipta kehidupan. Dosa adalah penolakan terhadap pemerintahan Tuhan yang sah dan lebih memilih ciptaan daripada Pencipta. Keseriusan dosa diukur bukan hanya dari perbuatannya, tetapi dari Pribadi yang kepadanya dosa itu ditujukan. Ketika kita mulai memahami kekudusan Tuhan, kita mulai mengerti mengapa kejahatan harus dihakimi. Jika Tuhan tidak pernah menghakimi kejahatan, maka keadilan tidak akan pernah benar-benar ada. Penindasan, kekerasan, kekejaman, dan kefasikan tidak akan pernah dijawab. Tuhan yang tidak pernah menghakimi justru tidak sungguh-sungguh mengasihi para korban, dan juga tidak sungguh kudus.
Namun Kitab Suci juga mengajarkan bahwa penghakiman tidak bersifat sewenang-wenang. Manusia tidak dihukum karena secara tidak sengaja gagal dalam suatu tes agama. Yesus berkata dalam Yohanes 3 bahwa “manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang.” Itu pernyataan yang serius. Dosa bukan hanya ketidaktahuan; sering kali itu adalah perlawanan. C.S. Lewis pernah menulis bahwa pada akhirnya hanya ada dua jenis manusia: mereka yang berkata kepada Tuhan, “Jadilah kehendak-Mu,” dan mereka yang kepada mereka Tuhan berkata, “Jadilah kehendakmu.” Meskipun hal ini tidak sepenuhnya mendefinisikan neraka, ia menangkap satu kebenaran alkitabiah yang penting: Tuhan tidak memaksa kasih. Ia mengizinkan pilihan manusia memiliki makna kekal.
Namun pertanyaan yang lebih dalam masih tersisa: Mengapa menciptakan dunia seperti ini sejak awal? Mengapa tidak menciptakan dunia di mana setiap orang dengan bebas memilih Dia?
Kitab Suci tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan itu secara filosofis, dan kita perlu jujur tentang hal tersebut. Namun Kitab Suci memberi isyarat tentang sesuatu yang mendalam: aspek-aspek tertentu dari karakter Tuhan hanya dapat dikenal dalam dunia yang ditebus. Tanpa dosa, kita akan mengenal kuasa dan hikmat Tuhan—tetapi akankah kita mengenal belas kasih-Nya? Tanpa pemberontakan, akankah kita mengenal pengampunan-Nya? Tanpa penderitaan, akankah kita memahami kedalaman belas kasihan-Nya? Tanpa salib, akankah kita melihat sepenuhnya luasnya kasih ilahi?
Inilah alasan mengapa salib harus menjadi pusat jawaban kita. Tanggapan terdalam Kekristenan terhadap pertanyaan ini bukanlah sebuah teori—melainkan Yesus Kristus.
Di kayu salib, Tuhan melakukan sesuatu yang menakjubkan: Sang Hakim menanggung hukuman itu sendiri. Ia tidak tetap berjarak dari rasa sakit dan tragedi yang disebabkan oleh dosa. Ia memasukinya. Di dalam Kristus, Tuhan menderita. Ia memikul akibat pemberontakan manusia. Roma 5:8 mengatakan, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Itu berarti setiap pembahasan tentang neraka atau penghakiman harus selalu dilihat melalui lensa Kalvari. Salib menunjukkan bahwa Tuhan memandang dosa dengan serius—tetapi juga bahwa Ia mengasihi orang berdosa sedemikian rupa hingga mau menderita bagi mereka.
Itu mengubah segalanya.
Artinya, kita tidak dapat membayangkan Tuhan sebagai Pribadi yang dengan kejam mengusir manusia sambil tetap tak tersentuh. Tuhan dalam Alkitab adalah Tuhan yang menangis, yang menderita, yang merentangkan tangan-Nya sepanjang hari kepada umat yang memberontak, dan yang pada akhirnya menyerahkan diri-Nya bagi dunia.
Catatan penting lainnya: kita harus berhati-hati membuat asumsi tentang berapa banyak yang pada akhirnya akan binasa. Alkitab berbicara dengan jelas tentang penghakiman, dan kita tidak boleh melunakkan peringatannya. Namun Kitab Suci tidak memberi kepastian statistik tentang persentase. Ada yang berbicara seolah-olah mereka tahu bahwa “sebagian besar” umat manusia akan dihukum, tetapi penekanan Kitab Suci bukan pada angka—melainkan pada urgensi kasih karunia dan keluasan belas kasih Tuhan. Yang kita ketahui adalah bahwa Tuhan itu sempurna adil, sempurna bijaksana, dan sempurna baik. Tidak seorang pun pada hari terakhir akan dapat menuduh-Nya berbuat salah.
Abraham bertanya dalam Kejadian 18:25, “Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” Pertanyaan itu tetap menjadi sumber penghiburan yang dalam.
Pada akhirnya, mungkin di sinilah kita harus berhenti: bukan pada memiliki jawaban bagi setiap pertanyaan filosofis, melainkan pada mempercayai karakter Tuhan sebagaimana dinyatakan dalam Yesus Kristus. Rasul Paulus sendiri, setelah merenungkan maksud-maksud Tuhan yang penuh misteri, tidak menutup dengan penjelasan yang rapi, melainkan dengan penyembahan: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselami keputusan-keputusan-Nya dan tak terselidiki jalan-jalan-Nya!” (Roma 11:33).
Itu bukanlah penyerahan intelektual—melainkan iman yang rendah hati.
Jadi ketika pertanyaan ini mengganggumu—dan itu memang seharusnya mengganggu kita, karena perkara kekal tidak pernah bisa terasa ringan—pandanglah Kristus. Pandanglah belas kasih-Nya. Pandanglah air mata-Nya. Pandanglah salib-Nya. Di sana engkau tidak akan menemukan Tuhan yang bersukacita dalam kehancuran. Engkau akan menemukan Tuhan yang kekudusan-Nya sempurna, keadilan-Nya benar, dan kasih-Nya begitu dalam sehingga Ia menyerahkan diri-Nya sendiri untuk menyelamatkan musuh-musuh-Nya.
Ada misteri-misteri yang tidak dapat kita pahami sepenuhnya. Namun kita dapat mempercayai Dia yang telah menunjukkan hati-Nya kepada kita.
Anugerah dan damai sejahtera di dalam Kristus menyertaimu.
Ps. Yudi Jatmiko
Question:
Why did God choose such an extreme path to display His glory? Surely He could have used other ways than creating humans (of which a large majority He knew would not believe and would be condemned eternally) to display His glory? How is it possible that revealing His character and glory is worth letting a large majority of His creation be sent to hell - it does not seem in line with His character of perfect love.
Answer:
Dear friend,
Thank you for asking such an honest and important question. This is not merely an intellectual issue—it is deeply personal and deeply emotional. Questions about God’s glory, human suffering, eternal judgment, and the love of God touch the very center of our faith and our hearts. It is understandable that this troubles you. In truth, Christians throughout history—including many faithful theologians and pastors—have wrestled with this same tension.
At the outset, it is important to acknowledge that Scripture itself holds together truths that can feel difficult for us to reconcile. The Bible teaches that God is perfectly holy and perfectly loving; that He is absolutely just and infinitely merciful; that He genuinely desires people to repent and be saved, yet also that human beings are morally responsible before Him. These truths are not contradictions, but they do create a tension that humbles us. Sometimes our first instinct is to resolve the tension quickly, but the Bible often invites us instead to sit reverently before mystery.
One of the first things to understand is what Scripture means when it says that God created all things for His glory. To modern ears, that can sound self-centered, almost as though God were seeking applause. But biblically, God’s glory is not divine vanity—it is the revelation of His true character: His holiness, beauty, justice, mercy, truth, wisdom, and love. When God glorifies Himself, He is showing what is ultimately most beautiful and most real. Because God Himself is the highest good, the most loving thing He can do is reveal Himself fully. If He pointed us toward anything less than Himself, He would actually be withholding from us what is best.
And importantly, when Scripture speaks of God’s glory, it does not separate that glory from His compassion. When Moses asked to see God’s glory in Exodus 33, God answered by revealing His character: “The Lord, the Lord, a God merciful and gracious, slow to anger, and abounding in steadfast love and faithfulness” (Exodus 34:6). God’s glory includes His mercy. His love is not opposed to His glory; it is part of His glory.
At the same time, we must say clearly that God did not create human beings for damnation. The Bible never presents God as delighting in condemnation. Through the prophet Ezekiel, God says, “I have no pleasure in the death of the wicked, but that the wicked turn from his way and live” (Ezekiel 33:11). Paul writes that God “desires all people to be saved” (1 Timothy 2:4), and Peter reminds us that God is patient, “not wishing that any should perish” (2 Peter 3:9). Jesus Himself wept over Jerusalem. The God revealed in Scripture is not cold or indifferent toward human loss. He grieves over it.
Part of the difficulty in this discussion is that we often underestimate the seriousness of sin. In our culture, sin is often reduced to “mistakes” or “imperfections,” but Scripture presents it as far more serious. Sin is rebellion against the Author of life. It is rejecting God’s rightful rule and preferring created things over the Creator. The seriousness of sin is measured not only by the act, but by the One against whom it is committed. When we begin to grasp God’s holiness, we begin to understand why evil must be judged. If God never judged evil, then justice would never truly exist. Oppression, abuse, cruelty, and wickedness would never be answered. A God who never judges would not actually be loving toward victims, nor truly holy.
Yet Scripture also teaches that judgment is not arbitrary. Human beings are not condemned because they accidentally failed a religious test. Jesus says in John 3 that “people loved darkness rather than light.” That is a sobering statement. Sin is not merely ignorance; it is often resistance. C.S. Lewis once wrote that in the end there are only two kinds of people: those who say to God, “Your will be done,” and those to whom God says, “Your will be done.” While that does not fully define hell, it captures an important biblical truth: God does not coerce love. He allows human choices to have eternal significance.
Still, your deeper question remains: Why create a world like this at all? Why not create a world in which everyone freely chooses Him?
Scripture does not fully answer that question philosophically, and we should be honest about that. But it does suggest something profound: certain aspects of God’s character can only be known in a redeemed world. Without sin, we would know God’s power and wisdom—but would we know His mercy? Without rebellion, would we know His forgiveness? Without suffering, would we understand the depth of His compassion? Without the cross, would we ever see the full extent of divine love?
This is why the cross must be central to our answer. Christianity’s deepest response to this question is not a theory—it is Jesus Christ.
At the cross, God does something astonishing: the Judge bears judgment Himself. He does not remain distant from the pain and tragedy caused by sin. He enters it. In Christ, God suffers. He takes upon Himself the consequences of human rebellion. Romans 5:8 tells us, “God shows His love for us in that while we were still sinners, Christ died for us.” That means any discussion of hell or judgment must always be viewed through the lens of Calvary. The cross tells us that God takes sin seriously—but it also tells us that He loves sinners enough to suffer for them.
That changes everything.
It means we cannot picture God as cruelly sending people away while remaining untouched. The God of the Bible is the God who weeps, who suffers, who stretches out His hands all day long to a rebellious people, and who ultimately gives Himself for the world.
Another important note: we should be cautious about making assumptions regarding how many will finally be lost. The Bible speaks clearly about judgment, and we must not soften those warnings. But Scripture does not give us statistical certainty about percentages. Some speak as though they know that “most” humanity will be condemned, but Scripture’s emphasis is not on numbers—it is on the urgency of grace and the wideness of God’s mercy. What we know is that God is perfectly just, perfectly wise, and perfectly good. No one on the last day will be able to accuse Him of wrongdoing.
Abraham asked in Genesis 18:25, “Shall not the Judge of all the earth do what is just?” That remains a deeply comforting question.
In the end, this may be where we must rest: not in having every philosophical question answered, but in trusting the character of God as revealed in Jesus Christ. The apostle Paul himself, after reflecting on God’s mysterious purposes, does not conclude with a neat explanation but with worship: “Oh, the depth of the riches and wisdom and knowledge of God! How unsearchable are His judgments and how inscrutable His ways!” (Romans 11:33).
That is not intellectual surrender—it is humble faith.
So when this question troubles you—and it should trouble us, because eternal things should never feel light—look to Christ. Look at His compassion. Look at His tears. Look at His cross. There you will not find a God who delights in destruction. You will find a God whose holiness is perfect, whose justice is righteous, and whose love is so profound that He gave Himself to save His enemies.
There are mysteries we cannot fully comprehend. But we can trust the One who has shown us His heart.
Grace and peace to you in Christ.
Ps. Yudi Jatmiko

