Keramahan yang Lahir dari Hati yang Dibuka Tuhan
by GPBB ·
Kisah Para Rasul 16:15 mencatat respons iman Lidia setelah Tuhan membuka hatinya untuk memperhatikan apa yang dikatakan Paulus. Respons itu tidak berhenti pada pengakuan iman secara pribadi, melainkan diwujudkan secara konkret melalui keramahtamahan: “Jika kamu menganggap bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, datanglah ke rumahku dan tinggallah di situ.” (LAI TB2). Iman yang sejati, menurut kesaksian Alkitab, selalu berbuah dalam tindakan nyata.
Dalam perspektif Reformed dan Presbyterian, teks ini menegaskan doktrin anugerah yang berdaulat. Lidia tidak lebih dahulu membuka hatinya kepada Tuhan; justru Tuhanlah yang membuka hatinya. Keselamatan adalah karya Allah semata (sola gratia). Namun anugerah yang berdaulat itu tidak membuat manusia pasif. Sebaliknya, anugerah melahirkan ketaatan dan transformasi hidup. Keramahtamahan Lidia bukanlah usaha untuk memperoleh keselamatan, melainkan buah dari iman yang hidup.
Keramahan yang ditunjukkan Lidia juga memiliki dimensi eklesial (gerejawi). Rumahnya menjadi tempat persekutuan dan dukungan bagi pelayanan Injil di Filipi. Dalam tradisi Presbyterian, gereja dipahami bukan hanya sebagai institusi, tetapi sebagai komunitas perjanjian yang saling menopang. Keramahan Kristen menjadi sarana Allah membangun tubuh Kristus—bukan sekadar sikap sosial, melainkan pelayanan rohani.
Lebih jauh, kisah ini mengingatkan bahwa iman Kristen tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari. Lidia adalah seorang pedagang kain ungu—seorang profesional pada zamannya. Iman yang berakar dalam anugerah Allah membentuk cara ia bekerja, mengelola rumah tangga, dan melayani sesama. Seluruh hidup menjadi medan pengabdian kepada Tuhan (coram Deo), di mana setiap aspek dijalani di hadapan Allah.
Bagi gereja masa kini, khususnya dalam konteks masyarakat urban dan profesional, teladan Lidia menantang kita untuk memeriksa apakah iman kita terlihat dalam keterbukaan, kemurahan, dan kesediaan berbagi hidup. Keramahan Kristen bukanlah soal kenyamanan, melainkan kesetiaan kepada Tuhan yang terlebih dahulu menerima kita di dalam Kristus.
Pertanyaan Refleksi:
- Bagaimana iman kepada Kristus memengaruhi sikap dan integritas saya dalam dunia kerja sehari-hari?
- Apakah rumah dan relasi keluarga saya mencerminkan keramahtamahan dan kasih yang lahir dari Injil?
- Dalam bentuk apa Tuhan memanggil saya untuk mendukung pelayanan dan persekutuan gereja secara nyata?
Tuhan yang penuh anugerah, terima kasih karena Engkau lebih dahulu membuka hati kami. Bentuklah hidup kami agar iman yang kami akui nyata dalam keramahtamahan, ketaatan, dan pelayanan. Pakailah seluruh hidup kami untuk kemuliaan nama-Mu. Di dalam Kristus kami berdoa. Amin. (YJ)
Image courtesy of anak.stemi.id

