Menjadi Anak-Anak Allah
by GPBB ·
1 Yohanes 3:1a – “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. …”
Ukuran kasih sayang bagi seorang anak umumnya adalah apakah orang tuanya memenuhi keinginannya baik yang diucapkan secara verbal ataupun tidak. “Papa tidak sayang saya! Saya benci Papa!” sering menjadi seruan seorang anak yang keinginannya tidak terpenuhi. Dalam kekecewaan seorang anak yang tidak mendapatkan apa yang diinginkan, anak itu mungkin akan menangis, mengurung diri, berteriak, merengek, memukul orang tuanya, atau berguling-guling di lantai. Umumnya tindakan tersebut, sekalipun tidak menyenangkan, dimengerti sebagai “namanya juga anak-anak”. Bukan hal yang mudah bagi orang tua untuk menghadapi ledakan emosi anak-anak. Namun, hal yang indah adalah sangat jarang orang tua mengusir anak-anaknya walaupun mereka harus menghadapi tindakan-tindakan tersebut berulang kali.
Ayat pada hari ini menyatakan sebuah kasih karunia yang besar dari Bapa ketika orang percaya diadopsi menjadi anak-anakNya. Dalam status sebagai anak, tidak jarang orang percaya akan jatuh dalam dosa dan kelemahan sehingga mengecewakan Bapa. Dalam setiap kejatuhan tersebut, selalu ada pengampunan bagi mereka yang datang kepadaNya. Tidak jarang juga orang percaya kecewa dan ‘ngambek’ kepada Bapa karena keinginannya tidak terpenuhi atau tantangan kehidupan yang terasa terlalu berat. Namun, seperti banyak orang tua yang tetap mengasihi anak-anaknya, Bapa tidak akan meninggalkan anak-anakNya yang ‘ngambek’ kepadaNya. Inilah indahnya status orang percaya yang adalah anak-anak Allah bahwa statusnya tidak akan berubah. Allah senantiasa setia. Biarlah pengertian ini mendorong ucapan syukur untuk anugerah yang kita terima sebagai anak-anak Allah. (VL)

