BEBAL
by GPBB · Published · Updated
Membaca Kitab Amsal biasanya memberikan kita panduan yang praktis. Namun, ketika sampai di Amsal 26:4-5, kita seperti dihadapkan pada sebuah kontradiksi yang membingungkan. Ayat 4 melarang kita: “Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia.” Namun, persis di ayat berikutnya, kita justru diperintahkan sebaliknya: “Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak.”
Apakah penulis Amsal ini sedang kebingungan? Tentu tidak. Sepasang ayat paradoks ini justru sangat relevan, terutama jika kita melihatnya dalam konteks era media sosial saat ini. Berapa kali kita membaca kolom komentar atau lini masa dan menemukan argumen yang absurd, provokatif atau misinformasi? Seringkali, ego kita langsung tergelitik. Jari kita gatal ingin mengetik balasan tajam untuk mematahkan argumen tersebut persis dengan semangat ayat 5: supaya ia jangan menganggap dirinya bijak. Kita merasa punya semacam kewajiban moral untuk ‘mengedukasi’ atau sekadar membuktikan bahwa kita lebih benar.
Namun, apa yang sering terjadi selanjutnya? Balasan kita ditanggapi dengan logika yang makin melantur, emosi yang memanas dan perdebatan berubah menjadi ajang saling serang yang melelahkan. Tanpa sadar, kita sudah terseret ke dalam asap perdebatan yang membutakan. Niat awal ingin mencerahkan, kita malah jatuh ke dalam peringatan ayat 4: kita menjadi sama bebalnya dengan dia. Ikut marah dan kehilangan damai sejahtera hanya karena meladeni provokasi. Lalu, bagaimana kita dapat menemukan ‘hikmat’ untuk memutuskan kapan harus menjawab dan kapan harus diam?
Mungkin, poin utama dari sepasang ayat ini bukanlah untuk memberikan rumus matematika yang kaku. Paradoks ini sengaja diletakkan berdampingan untuk menyadarkan kita bahwa berurusan dengan ‘kebebalan’ adalah sebuah jebakan yang kompleks. Tidak ada satu jawaban kaku yang bisa diterapkan untuk semua situasi. Sebaliknya, Amsal sedang menuntut kita untuk memiliki penguasaan diri dan kepekaan rohani yang aktif.
Ada kalanya kita dituntut untuk angkat bicara, terutama jika kebebalan itu berpotensi melukai orang lain. Kita menjawab bukan untuk memuaskan ego kita semata. Namun, di banyak kesempatan lainnya, hikmat justru memanggil kita untuk sekadar menarik napas panjang, menyingkirkan gawai kita dan berjalan pergi. Kita memilih untuk tidak merespons, karena kita sadar bahwa berdebat dengan orang yang tertutup pada kebenaran hanyalah membuang waktu. Sebagai pengikut Kristus, panggilan kita bukanlah untuk memenangkan setiap perdebatan di internet, melainkan untuk hidup dalam hikmat Allah. Di tengah dunia yang bising, mari terus memohon hikmat dari Roh Kudus. Biarlah Ia yang menuntun jari dan lisan kita, agar kita tahu kapan harus menyatakan kebenaran dan kapan harus tersenyum sambil memilih diam. (SH)

