Siklus
by GPBB ·
Kitab Hakim-Hakim menceritakan sebuah pola yang terus berulang dalam sejarah umat Israel: siklus dosa, penindasan, pertobatan, penebusan dan kembali ke dosa. Saat umat Israel melupakan Allah, mereka jatuh ke dalam penderitaan yang luar biasa. Lalu saat mereka berseru meminta tolong, Allah dengan setia membangkitkan seorang hakim-hakim bagi mereka. Tapi sayangnya, begitu keadaan kembali aman, umat Israel dengan cepat kembali melupakan Allah.
Kalau kita mengamati dunia hari ini, kita bisa melihat gema dari siklus tersebut yang terulang lagi dalam sejarah negara Israel modern. Terlepas dari perdebatan teologis mengenai apakah negara Israel modern itu sama dengan ‘umat Israel’ di Perjanjian Lama, ada cermin kemanusiaan yang sangat tragis di sana. Kita melihat betapa mudahnya sebuah kelompok yang dulunya sangat tertindas, ketika akhirnya memiliki kekuatan dan kekuasaan yang besar, malah berbalik menjadi penindas dan penjajah bagi pihak lain. Kekuasaan di tangan manusia berdosa, tanpa adanya pertobatan yang sejati, pada akhirnya selalu cenderung melahirkan bentuk penindasan yang baru.
Realitas ini seharusnya menjadi peringatan bagi gereja untuk terus memeriksa diri kita sendiri. Seringkali, gereja bisa tampil begitu penuh dengan kasih, sangat bergantung pada Allah dan peka terhadap penderitaan sesama dan keadilan ketika posisinya masih sebagai minoritas yang rentan. Namun sejarah juga menunjukkan, ketika posisi itu bergeser dan gereja mulai mendapatkan tempat sebagai mayoritas atau memiliki akses terhadap kekuasaan, godaan untuk berubah menjadi sangat besar. Sangat mudah bagi gereja untuk tanpa sadar bergeser menjadi institusi yang mulai mendikte, merasa berhak mengontrol atau bahkan ikut menindas kelompok yang berbeda dengan dalih kebenaran. Menjadi pengikut Kristus berarti kita dipanggil untuk menjaga konsistensi kita, terlepas dari apakah kita sedang berada di posisi yang lemah atau sedang memegang kuasa. Kita dipanggil untuk secara aktif memutus rantai sejarah ini dengan tetap memilih jalan kerendahan hati dan belas kasih, menyadari bahwa kasih karunia Allah-lah yang menopang kita. Hanya dengan terus berpegang erat pada teladan Kristus, sang Hamba yang sejati itu, gereja dapat menjaga dirinya agar tidak mengulang siklus tragis di mana yang dulu tertindas berubah wujud menjadi sang penindas. (SH)

