SAKSI
by GPBB ·
Image from vaticannews.va
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kis 1:8)
Kitab Kisah Para Rasul dibuka dengan perkataan Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum Ia terangkat ke surga: bahwa mereka akan menjadi saksi-Nya, mulai dari Yerusalem hingga ke ujung bumi. Kisah ini kemudian berakhir di Roma, ibu kota kekaisaran Romawi yang pada saat itu merupakan kekuatan hegemoni terbesar di dunia. Roma menjadi gambaran simbolis dari ‘ujung bumi’, sekaligus menunjukkan bagaimana umat Kristen terus dipanggil untuk menjadi saksi Kristus, bahkan di hadapan para penguasa dan kekuatan dunia.
Kondisi geopolitik dunia akhir-akhir ini terus memanas, dengan perang antara Israel-Amerika Serikat dan Iran sebagai contoh terkini. Dalam situasi peperangan tersebut, banyak pejabat dan tokoh agama di Amerika Serikat terutama dari kalangan Injili mengutip Alkitab atau mencatut nama Tuhan untuk membenarkan tindakan mereka. Di tengah maraknya penyalahgunaan nama Tuhan seperti ini, Paus Leo XIV tampil sebagai salah satu tokoh agama yang dengan lantang mengingatkan para penguasa dunia. Ia berkata, “Celakalah mereka yang memanipulasi agama dan nama Tuhan demi kepentingan militer, ekonomi, dan politik mereka, menyeret hal yang sakral ke dalam kegelapan dan kenajisan.”
Menariknya, tentunya, Paus Leo XIV merupakan Paus pertama yang berasal dari Amerika Serikat! Namun asal-usul kewarganegaraannya tidak menghalanginya untuk tetap bersikap kritis terhadap pemerintah negaranya sendiri. Sebaliknya, ia memilih menjadi suara moral dan kenabian yang berani menyuarakan kebenaran dan keadilan, meskipun harus menghadapi berbagai serangan dan tekanan politik.
Sebagai jemaat Tuhan, kita pun dipanggil untuk menjadi saksi Kristus di tengah dunia yang penuh kebingungan moral dan kepentingan kuasa. Menjadi saksi bukan hanya berarti memberitakan Injil melalui kata-kata, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah: kebenaran, keadilan, kasih, dan damai sejahtera. Di tengah banyaknya penyalahgunaan agama demi kepentingan manusia, gereja dipanggil untuk tetap setia kepada suara Kristus serta berani membedakan mana kehendak Tuhan dan mana ambisi manusia semata yang dibalut dengan embel-embel nama ‘Tuhan’. Waspadalah! (SH)

