Menerima Karena Telah Diterima
by GPBB ·
Roma 15:7, Galatia 3:28
Sudah hampir satu tahun kita belajar tentang hospitality, baik melalui tema khotbah maupun materi K2. Ini tentu menjadi perjalanan refleksi yang baik bagi kita sebagai pengikut Kristus. Dalam praktiknya, tentu tidak mudah menghidupi hal ini di tengah-tengah konteks kehidupan dan budaya di Singapura. Namun, biarlah kita terus berjuang menjadikannya sebagai gaya hidup dan menjadi perjalanan yang terus membentuk kita.
Kita telah belajar bahwa keramahan yang Alkitabiah memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar bersikap ramah: yaitu kesediaan untuk membuka hati, hidup, dan kenyamanan kita bagi orang lain.
Roma 15:7 memberikan dasar yang kuat untuk itu. Rasul Paulus berkata: “Sebab itu terimalah satu sama lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kamu, untuk kemuliaan Allah.” (TB2) Rasul Paulus mengingatkan bahwa standar kita dalam menerima sesama bukan diukur dari kelayakan atau seberapa menyenangkan orang tersebut, melainkan pada satu fakta bahwa Kristus telah terlebih dahulu menerima kita yang tidak layak ini. Kita yang sesungguhnya tidak layak, penuh cela, dan asing bagi Allah – namun Kristus dengan segala kasih karunia-Nya telah menerima, mengampuni dan merangkul kita apa adanya.
Galatia 3:28 pun mengingatkan bahwa di dalam Kristus, tidak ada lagi sekat pemisah, baik suku maupun status social. Di hadapan salib Kristus, kita semua berdiri sebagai orang berdosa yang sama-sama ditebus. Oleh karena itu, gereja seharusnya menjadi tempat yang paling aman bagi siapa saja untuk datang dan diterima. Keramahan yang kita berikan kepada sesama bukanlah sebuah beban pelayanan, melainkan limpahan rasa syukur atas kasih Allah yang sudah meluap di dalam hidup kita.
Menjelang akhir perjalanan kita bersama buku The Gospel Comes with a House Key, Rosaria Butterfield mengingatkan kita dengan indah: "Christian hospitality cares for the things that our neighbors care about... It means starting where you are and looking around for who needs you." (hal. 166).
Ketika kita berhenti menghakimi dan mulai peduli pada apa yang dipedulikan sesama kita, kasih Kristus menjadi nyata. Melalui anugerah Tuhan, hospitality yang radikal namun sederhana inilah yang “meets people as strangers and makes them neighbors; it meets neighbors and make them family.” (hal. 172).
Marilah miliki ketulusan yang sama seperti saat Kristus menyambut kita, dan runtuhkanlah tembok prasangka di dalam hati. Saat kita belajar menerima sesama tanpa syarat, saat itulah nama Allah dipermuliakan melalui hidup kita. Selamat berefleksi, selamat menikmati perjalanan hospitality kita, dan teruslah menjadi berkat! (CP)

