Spiritual Leaders and Secular Leaders
by GPBB ·
Photo by Jehyun Sung on Unsplash
Lukas 9:23: "Kata-Nya kepada mereka semua: 'Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.'"
Pemimpin dan kepemimpinan menjadi hal yang amat penting. Banyak orang ingin menjadi pemimpin tetapi tidak memiliki kepemimpinan. Akibatnya, banyak pemimpin tidak memiliki kepemimpinan (leader without leadership). Sebaliknya banyak orang memiliki leadership tetapi tidak menjadi pemimpin. Tetapi pada umumnya leadership-lah yang dapat memberikan pengaruh bukan posisi atau jabatan pemimpin.
Demikian pula halnya dengan pemimpin rohani di gereja. Ia harus memiliki spiritual leadership. Apa yang harus dikembangkan agar spiritual leader memiliki spiritual leadership?
- Penyangkalan Diri (Self Denial)
Tiga pasal di kitab pertama Alkitab mencatat semua permulaan. Permulaan alam semesta (Kej 1); Permulaan tempat tinggal manusia (sebuah cikal bakal komunitas manusia) (Kej 2) dan Permulaan dosa manusia (Kej 3)
Pada permulaan dosa tampak jelas bahwa manusia tidak ingin hidup bersama TUHAN dan sesama. Ini sama artinya manusia ingin hidup tanpa spiritualitas dan tanpa komunitas.
Kunci hidup dengan TUHAN dan sesama adalah penyangkalan diri. Hidup dalam komunitas sama artinya hidup dalam membangun team work. Yang diutamakan adalah kepentingan komunitas bukan individual.
Pemimpin rohani meninggikan Kristus. Pemimpin sekular meninggikan diri sendiri.
Pemimpin sekular terus melakukan pembaharuan/pengembangan pribadi (self development) tetapi tanpa penyangkalan diri (self denial). Tetapi pemimpin rohani melakukan pertama-tama self denial sambil terus melakukan self development.
- Pemimpin rohani menghasilkan orang semakin dekat dengan Tuhan, bertumbuh dalam kerohanian. Pemimpin sekular membuat orang lain semakin dekat dengan egonya, membuat orang hanya bertambah cinta egonya sendiri. Pemimpin rohani tidak hanya sekedar pembuat program, pengambil keputusan dan pengelola gereja tetapi juga contoh teladan dalam membuat jemaat semakin bertumbuh dalam kerohanian.
Gereja perlu religiusitas (aktivitas-aktivitas/program rohani yang berkaitan dengan ajaran, doktrin, nilai, peribadatan dan penghayatan) tetapi juga perlu spiritualitas (pengenalan dan pemahaman diri, sehingga mampu menampakkan atau memraktekkan nilai rohani dalam diri ke dalam kehidupan sosial)
Kita perlu memikirkan hal-hal ortodoksi tetapi juga menjadi contoh dalam ortopraksis. Iman dan perbuatan harus seimbang.
Setiap orang bisa tidak menjadi pemimpin tetapi setiap orang harus memiliki jiwa kepemimpinan, lebih lagi bagi kita orang Kristen harus memiliki spiritual leadership (J.Th)

