Identitas
by GPBB · Published · Updated
Illustration by Md. Mozibur Rahman at vecteezy
Bulan Agustus selalu menjadi bulan yang istimewa dan penuh perayaan bagi gereja kita. Di bulan ini, kita merayakan tiga momen penting yang saling berdekatan: Hari Kebangsaan Singapura pada 9 Agustus, Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus, dan hari ulang tahun gereja kita sendiri pada 20 Agustus. Rentetan perayaan ini memantik sebuah pertanyaan yang mendalam bagi kita sebagai sebuah komunitas: Di manakah letak identitas kita yang sesungguhnya?
Gereja kita memiliki perjalanan sejarah yang serupa dengan gereja-gereja imigran pada umumnya. Awalnya, komunitas ini dirintis oleh para perantau asal Indonesia. Seiring berjalannya waktu, gereja kita terus bertumbuh hingga menyentuh generasi kedua, ketiga atau bahkan keempat. Saat ini, banyak jemaat yang merupakan warga negara Singapura, yang lahir, bersekolah dan bertumbuh di negeri ini. Pergeseran ini mungkin dapat membuat kita merasa seolah hidup di antara dua dunia: akar budaya kita tertanam di Indonesia, tetapi rumah, realitas, dan masa depan kita ada di Singapura.
Pergumulan mengenai identitas ini bukanlah hal yang baru bagi umat Allah. Sebuah dokumen gereja mula-mula dari abad ke-2 Masehi, yaitu Surat untuk Diognetus, merangkum dengan baik paradoks identitas kekristenan kita di tengah dunia: "Mereka [umat Kristiani] tinggal di negara mereka masing-masing, tetapi hanya sebagai musafir; mereka ambil bagian dalam segala hal sebagai selayaknya warga negara, dan mereka menanggung semua kesulitan sebagai orang asing. Setiap negara asing adalah tanah air bagi mereka, dan setiap tanah air adalah negara yang asing." (Diognetus 5)
Pesan ini menegaskan satu hal penting: Apa pun warna paspor yang kita pegang hari ini, kewarganegaraan kita yang terutama adalah dari surga (Filipi 3:20). Identitas surgawi inilah yang menyatukan kita semua, melampaui latar belakang negara atau dari generasi mana kita berasal. Karena kita adalah warga Kerajaan Allah, panggilan kita di bumi menjadi sangat jelas. Sebagaimana firman Tuhan dalam Yeremia 29:7, kita dipanggil untuk mengusahakan kesejahteraan kota di mana pun Tuhan menempatkan kita. Sebagai gereja yang terus bertumbuh, mari kita jalani identitas kita sebagai saksi Kristus yang sejati. Mengasihi dan membangun Singapura sebagai rumah kita, mendoakan Indonesia sebagai bagian dari akar sejarah kita, dan di atas segalanya, menghidupi panggilan kita sebagai anak-anak Allah yang membawa terang dan damai sejahtera-Nya ke mana pun kita melangkah. (SH)

