SOLI DEO GLORIA
by GPBB ·
Ketika sebuah bangsa baru saja memenangkan pertempuran besar, biasanya siapa yang dielu-elukan? Tentu sang jenderal atau sang pahlawan yang membalikkan keadaan. Namun dalam Hakim-hakim 5, kita menemukan sesuatu yang tidak biasa. Setelah kemenangan besar atas Sisera dan pasukan Kanaan, Debora dan Barak tidak menyanyikan lagu tentang kehebatan mereka sendiri. Nyanyian mereka dibuka dengan tegas: "Aku mau, aku mau menyanyikan bagi Tuhan, aku mau bermazmur bagi Tuhan, Allah Israel" (ay. 3 TB2). Kemenangan itu nyata dan melibatkan usaha manusia, tapi pujian diarahkan sepenuhnya kepada Tuhan yang berdaulat. Nyanyian ini juga menyerahkan penghakiman sepenuhnya ke tangan Tuhan (ay. 31). Bukan Debora yang membalas, tapi Tuhan sendiri yang bertindak atas musuh-Nya.
Lalu, siapa "musuh Tuhan" bagi kita hari ini? Kita tidak lagi berperang melawan Sisera. Tapi ada musuh yang jauh lebih halus: kecenderungan hati kita untuk diam-diam mengklaim jasa atas apa yang sebenarnya Tuhan kerjakan, entah itu keberhasilan dalam pekerjaan, pemulihan dari sakit, atau berkat dalam keluarga. Kita cepat berkata "saya berhasil karena kerja keras saya," tapi lupa mengakui bahwa kekuatan, kesempatan, bahkan nafas hidup kita sendiri adalah pemberian-Nya.
Menariknya, nyanyian Debora ini ditutup dengan pujian sama seperti banyak Mazmur. Dari awal (ay. 3) sampai akhir (ay. 31), fokusnya tidak pernah bergeser dari Tuhan. Bahkan detail penutupnya berkata: "negeri itu tenteram empat puluh tahun lamanya." Tapi damai ini ada batasnya dalam kitab Hakim-hakim, damai semacam ini selalu terikat pada hidup sang pemimpin. Begitu hakim itu mati, siklus penindasan berulang lagi. Ini bukan kegagalan Debora, tapi memang begitulah keterbatasan setiap kepemimpinan manusia sekalipun ia diurapi Tuhan. Di sinilah letak pengharapan kita yang sesungguhnya: bukan pada pemimpin, tokoh, atau bahkan diri kita sendiri, tapi pada Kristus, Sang Hakim dan Raja sejati, yang membawa perhentian yang tidak akan pernah berakhir (bdk. Matius 11:28; Ibrani 4:9-10).
Soli Deo Gloria bukan sekadar semboyan reformasi yang usang untuk dihafal. Ini adalah cara hidup: dalam pekerjaan, keluarga, pelayanan, siapa sebenarnya yang kita "nyanyikan"? Mari arahkan hidup kita untuk memuliakan Tuhan saja, dengan mengingat bahwa damai sejati bukan dari kekuatan kita, tapi dari Kristus yang berdaulat atas segala sesuatu bagi kemuliaan-Nya.
Soli Deo Gloria.
(CP)

