Spiritual Leaders and Integrity
by GPBB ·
"Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau." (Mazmur 25:21)
What does integrity mean in a person? Integrity is the quality of being honest and showing a consistent and uncompromising adherence to strong moral and ethical principles and values. In ethics, integrity is regarded as the honesty and truthfulness or earnestness of one's actions. Integrity can stand in opposition to hypocrisy.
Definisi tersebut sangat menarik dan bagus. Integritas adalah:
- The quality of being honest.
Kualitas jati diri yang jujur. Being honest bukan doing honest. Jujur adalah identitas diri bukan berpura-pura jujur.
- Konsisten dan tanpa kompromi terhadap prinsip dan nilai moral dan etika. Darimana diketahui kejujuran itu being atau doing? Yaitu dari konsistensinya. Dalam kondisi, situasi, kepentingan dan kebutuhan apapun, kejujuran menjadi satu standard dan selalu diperjuangkan menjadi identitas (being) dari kehidupannya.
Ada lima (5) komponen nilai pada integritas yaitu honest, accountable, reliable, transparent, and ethical in all aspects of life.
Kejadian 39:2,3, “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu. Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya.”
Kejadian 39:23, “Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercaya-kannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakan-nya dibuat TUHAN berhasil.”
Yusuf salah satu contoh jelas dan kuat mengenai integritas. Ia diberkati TUHAN dan manusia dimanapun, kapanpun, dalam situasi dan posisi apapun. Yusuf tetap berkepribadian jujur (honest), akuntabel (accountable), dapat diandalkan(reliable), transparan (transparent) dan beretika (ethical).
Yusuf ketika dibenci dan dizolimi oleh kakak-kakaknya, ketika ia menjadi budak, ketika menjadi manajer rumah Potifar, ketika menjadi narapidana, ketika menjadi pejabat, penguasa, ia tetap menjaga integritasnya, tetap pribadi yang sama tidak berubah, tidak menjadi arogan, over confidence dan kehilangan spiritualitasnya. Lima komponen integrity inilah yang ada pada diri Yusuf dan menjadi kunci TUHAN memberkati Yusuf dengan kesuksesan.
Sukses, kekuasaan, kekayaan, jabatan seringkali mengubah spirituality dan integrity seseorang, tetapi itu tidak terjadi pada Yusuf.
Pertanyaan kritis buat kita semua: Apakah kehidupan kita di Singapura dalam upaya perjuangan meraih sukses, kekayaan, kekuasaan, posisi karir dll telah membuat spiritualitas dan integritas kita mulai punah?
Semoga kita semua tetap menjadi manusia yang memiliki kerohanian yang baik dan integritas yang kuat sesukses dan setinggi apapun kekuasaan kita (J.Th)

