SURVEY
by GPBB · Published · Updated
Baru-baru ini Departemen Statistik Singapura merilis laporan Survei Rumah Tangga Umum 2025, survei lima tahun sekali untuk memantau tren dalam populasi Singapura yang meliputi topik perkawinan, pendidikan, bahasa penuntun, agama, rumah tangga dan perumahan, pendapatan rumah tangga, dsb. Salah satu topik yang termasuk dalam laporan ini adalah tren agama penduduk Singapura. Menurut hasil survei ini, persentase penduduk Singapura yang beragama Kristen turun dari 18,9% pada tahun 2020 menjadi 17,1% pada tahun 2025. Ini adalah penurunan pertama yang tercatat setelah pertumbuhan selama beberapa dekade terakhir ini. Secara khusus, jumlah penganut tradisi Katolik meningkat dari 7,0% menjadi 7,6%, sementara jumlah penganut tradisi Protestan turun secara signifikan dari 11,9% menjadi 9,5%, dengan penurunan hampir 66.000 orang. Jumlah penganut tradisi Katolik meningkat dari 242.300 orang menjadi 275.400 orang, sementara jumlah penganut tradisi Protestan turun dari 412.000 orang menjadi 346.000 orang, yaitu sebanyak 16%!
Tentunya, angka bukanlah segalanya, namun tetap penting untuk mencoba mempelajari fenomena ini. Salah satu faktor terbesar dari 2020 ke 2025 adalah pandemi. Fenomena penurunan jumlah jemaat selepas pandemi tidak hanya terjadi di Singapura, namun juga terjadi di tempat-tempat lain, yang dikarenakan kombinasi beberapa faktor sosial dan psikologis yang mendalam. Selama masa pembatasan sosial, gereja-gereja beralih secara masif ke platform daring. Setelah pembatasan dicabut, banyak jemaat yang terbiasa menikmati ibadah dari rumah merasa kenyamanan tersebut mengalahkan urgensi kehadiran fisik, yang perlahan berujung pada pelepasan diri dari kebiasaan beribadah secara komunal atau de-churching. Selain itu, kehidupan bergereja sangat bergantung pada relasi antarpribadi. Isolasi yang panjang selama pandemi melemahkan jejaring sosial ini, membuat sebagian orang merasa canggung atau kehilangan ikatan emosional ketika gereja dibuka kembali.
Namun hal ini bukan berarti pandemi adalah satu-satunya faktor dari penurunan ini. Bagi kita yang berasal dari Indonesia, tentunya menyadari kontras yang besar dari masyarakat Indonesia yang sangat relijius secara performatif dengan masyarakat Singapura yang hidup di dalam ekosistem yang sekuler dan sangat pragmatis. Ketika gaya hidup berubah atau ketika ikatan komunal melemah, agama menjadi salah satu hal pertama yang dievaluasi ulang oleh individu yang merasa bisa hidup mandiri secara spiritual tanpa harus terikat pada institusi terorganisir. Ekspresi keagamaan di Singapura cenderung lebih privat dan moderat, berbeda dengan dinamika sosial keagamaan di Indonesia yang sarat dengan tekanan komunal dan ekspresi publik yang masif. Perbedaan lanskap sosial ini menuntut komunitas iman untuk membangun relasi yang otentik, memperdalam dan memperkuat akar di tingkat masyarakat tempat kita berada serta lebih relevan dalam menjawab pergumulan eksistensial dari generasi ke generasi. (SH)

