Gembala Bagi Ciptaan
by GPBB ·
Mazmur 24:1-2, Kejadian 1:28
Belakangan ini kita sering mendengar tentang perubahan iklim dan cuaca yang semakin ekstrem. Mungkin bagi sebagian kita, ini terasa seperti isu yang jauh dan ini merupakan aktivis lingkungan, atau pemerintah. Tapi sebenarnya, ini adalah pertanyaan yang sangat dekat dengan iman kita: apakah merawat bumi juga menjadi bagian dari panggilan hidup orang percaya?
Mazmur 24 diawali dengan pernyataan tentang kepemilikan bumi dan segala isinya. Daud dengan tegas menyatakan bahwa dunia dan segala yang diam di dalamnya adalah milik Tuhan. Dan alasan yang mendasar dari pernyataan dan pengakuan tersebut, yaitu karena Tuhan sendirilah yang menciptakan dan membentuk semuanya.
Kebenaran ini pun harus mengubah cara pandang manusia – bahwa sekali lagi, bumi ini bukan milik manusia, bumi adalah milik Tuhan. Tuhan sendiri yang mendirikan dan menegakkan bumi ini. Penciptaan bukan proses yang kebetulan, melainkan hasil rancangan Tuhan yang penuh kasih dan ketelitian. Kalau bumi ini bukan milik kita, lalu apa peran kita di dalamnya? Kejadian 1 menjadi jawabannya.
Jika kita memperhatikan Kejadian 1, ada satu kata yang terus diulang: Allah melihat ciptaan-Nya dan menyebutnya baik. Ketika Allah menyatakan baik ini bukan sekadar baik secara fungsi, tapi baik dan bernilai di mata Allah sendiri. Ini penting untuk kita sadari bahwa alam semesta bukan sekadar latar belakang cerita keselamatan manusia, tetapi adalah karya seni Allah yang berharga bagi-Nya. Pada ayat 28, Allah memberi manusia mandat untuk "berkuasa" dan "menaklukkan" bumi. Berkuasa (radah) di sini bukan memiliki makna kekuasaan yang sewenang-wenang, melainkan kepemimpinan yang melayani seperti seorang gembala yang merawat kawanan dombanya, bukan menguasainya untuk keuntungan sendiri. Kemudian, menaklukan (kabash) berbicara tentang tanggung jawab penatalayan, bagaimana mengelola dengan bijaksana, bukan dengan mengeksploitasi sumber daya tanpa batas.
Dengan kata lain, "berkuasa atas bumi" sebenarnya berarti menjadi wakil Allah yang memelihara ciptaan-Nya sebagaimana Allah sendiri memelihara dan mengasihi seluruh ciptaan-Nya. Ketika kita memperlakukan bumi dengan tidak bertanggung jawab, kita sebenarnya gagal menjalankan mandat yang Allah berikan sejak awal.
Pada akhirnya merawat ciptaan Allah bukan sekadar soal pengetahuan atau teknologi, melainkan soal hati yang mau tunduk pada panggilan-Nya. Peduli terhadap perubahan iklim dan merawat lingkungan bukanlah isu sekuler yang tidak ada hubungannya dengan iman Kristen. Justru sebaliknya ini adalah salah satu bentuk konkret dari ketaatan kita kepada Allah Sang Pencipta. Setiap kali kita memilih untuk menghemat energi, mengurangi sampah plastik, atau menjaga kebersihan lingkungan sekitar kita, sesungguhnya kita sedang menjalankan peran sebagai penatalayan yang setia.
Marilah kita terus ingat bahwa bumi yang kita tempati ini bukan milik kita, ini adalah milik Allah yang dipercayakan kepada kita untuk dijaga dan dirawat dengan kasih, sebagaimana Allah sendiri mengasihi seluruh ciptaan-Nya. Cara kita merawat bumi adalah salah satu cara kita memuliakan Sang Pencipta. Selamat berefleksi dan menjadi berkat! (CP)

